Share to: share facebook share twitter share wa share telegram print page

Diaspora Jawa di Aceh

Suku Jawa di Aceh
Jumlah populasi
400.000 (2010)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tamiang, Langsa, Nagan Raya, Singkil
Bahasa
Jawa, Indonesia, Aceh
Agama
Islam Sunni
Kelompok etnik terkait
Jawa

Suku Jawa di Aceh adalah orang ber-suku Jawa yang tinggal di provinsi Aceh. Orang Jawa di Pulau Jawa juga menyebut orang Jawa di Aceh dengan Jawa Sabrang Lor ("Jawa seberang utara") diambil dari julukan Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor karena meninggal saat bertempur bersama pasukan Kesultanan Aceh melawan Portugis di Malaka, sebutan yang serupa juga dilabelkan kepada suku Jawa di Sumatera Utara dengan Jawa Deli. Sebagian dari mereka telah bercampur dengan suku asli yang ada di Aceh baik dari garis nenek, kakek, bapak, atau dari garis keturunan ibu. Sebagian lagi masih memiliki keturunan asli. Dari segi bahasa, bahasa Jawa masih dianggap salah satu dialek dari bahasa Jawa ngoko yang telah bercampur dengan bahasa-bahasa setempat sehingga tidak sama persis dengan bahasa Jawa ngoko di Jawa, walaupun keduanya masih bisa saling memahami. Tidak seperti masyarakat Jawa pada umumnya suku Jawa di Aceh sudah tidak mengenal tingkatan bahasa (undhak-unduk basa), tetapi terdapat perbedaan pada intonasi suaranya.[2]

Penduduk

Masa Kesultanan Aceh

Kerjasama dan perpindahan penduduk secara tradisional sebelum kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tidak banyak sumber yang didapatkan. Namun, pada tahun 1511, Portugis berkuasa di Malaka. Kerajaan Demak yang dipimpin Raden Patah mengirimkan pasukannya untuk mengusir Portugis. Pasukan Demak itu dipimpin oleh Pati Unus. Ia dibantu oleh armada dari Aceh. Usaha mengusir Portugis di Malaka ini mengalami kegagalan karena kalah persenjataan dan kekuatan pasukan, kekalahan ini menguras banyak persediaan, kapal banyak yang mengalami kerusakan serta banyaknya pasukan yang terluka, sebagai kamp pasukan terdekat, Aceh menjadi tempat persinggahan untuk memulihkan kekuatan dan banyak dari pasukan Demak tidak kembali ke Jawa serta mendirikan perkampungan seperti Gampong Jawa di Banda Aceh dan lainnya terutama di pesisir utara dan tengah Aceh seperti Aceh Besar, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Lhokseumawe, Aceh Utara, Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Hal ini dibuktikan banyak kampung Jawa sudah berdiri sebelum adanya program transmigrasi tahun 1964.[3]

Masa penjajahan

Berawal dari penaklukan Sultan Iskandar Muda terhadap Kota Medan pada sekitar tahun 1612 M, juga diceritakan bahwa ia mendirikan kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Percut, Sigara-gara, Kota Rengas, dan Kota Jawa yang ikut membuka kran perpindahan penduduk dari Tanah Deli ke Aceh. Aceh sebagai daerah terakhir yang bisa ditaklukan penjajah yang diduduki secara de jure sejak Sultan Muhammad Dawud akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda tahun 1903. Akhirnya, Kesultanan Aceh runtuh tahun 1904 dan menjadi tempat pelarian yang aman oleh banyak pekerja paksa dari Deli yang sudah diduduki Belanda terlebih dulu.

Pasca runtuhnya Kesultanan Aceh tahun 1904, Belanda mulai mendirikan perkebunan seperti perkebunan kopi, tebu dan teh di Aceh yang banyak mendatangkan pekerja dari Jawa dan kebanyakan dari keturunannya masih menetap sampai sekarang dan dilanjutkan kemudian oleh penjajahan Jepang yang juga mendatangkan pekerja dari Jawa.[4]

Setelah kemerdekaan

Program transmigrasi di Aceh yang pada 1964, dimulai dengan menempatkan 100 KK warga transmigran di Blang Peutek, Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Namun, warga transmigran di kawasan kaki Gunung Seulawah Agam itu tidak bertahan lama. Hal tersebut dikarenakan meletusnya peristiwa G-30-S/PKI di Indonesia setahun setelahnya. Program transmigrasi di Pidie itu pun bubar. Lalu, sejumlah warga transmigran di situ meninggalkan UPT Blang Peutek, dan mereka pun eksodus dan mencari penghidupan baru di Saree, Aceh Besar. Sebagian di antaranya bahkan bekerja di PT Socfindo di Aceh Barat. Dan, sebagian lagi berpindah ke Sigli.

Transmigrasi di Aceh, setelah Blang Peutek, tidak lantas berhenti. Pada 1973 pembukaan kawasan baru pun dirintis di Aceh Utara. Lalu, pada tahun 1975/1976 program transmigrasi kembali hadir di Aceh dengan ditempatkan 300 KK warga transmigran di Cot Girek yang hampir bersamaan bilangan tahunnya dengan penempatanan petani tebu di Silih Nara dan karyawan Pabrik Gula Mini (PGM) Silih Nara yang didatangkan pekerja dari Pulau Jawa.

Transmigrasi di Aceh telah memicu lahirnya berbagai sentra produksi dan sentra ekonomi. Ini adalah dampak positif dari keterpaduan pembangunan multisektor di sebuah daerah. Lahirnya kawasan ekonomi Patek (Aceh Jaya), Jantho (Aceh Besar), Jagong Jeget (Aceh Tengah), Trumon (Aceh Selatan), Peunaron (Aceh Timur), Subulussalam, Nagan Raya dan lainnya.[5][6]

Masa konflik Aceh

Sejak konflik antara GAM dan pemerintah RI kembali meruncing di awal 1999, banyak transmigran asal Jawa memilih keluar dari Aceh. Dari data yang ada, sedikitnya 19.905 kepala keluarga atau sekitar 79.902 jiwa telah mengungsi. Sedangkan yang memilih untuk tetap bertahan berkisar 19.503 Kepala Keluarga yang tersebar di 40-an Unit Penempatan Transmigrasi (UPT). Para transmigran yang ada di Aceh umumnya berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, DKI Jakarta, sebagian dari Sumatera Utara dan juga dari Aceh. Penempatan transmigrasi pertama sekali di Aceh ini pada tahun 1975.[7] Waktu itu, sekitar 300 kepala keluarga di tempatkan di kawasan Cot Girek, Aceh Utara. Karena situasi konflik, para transmigran memilih untuk mengungsi. Sebanyak 4.768 KK atau sekitar 19.128 jiwa mengungsi di sekitar wilayah Aceh yang dianggap masih cukup aman, sedangkan 8.200 KK memilih keluar dari Aceh.[8]

Penyebaran

Hasil sensus penduduk tahun 2009 menunjukkan suku Jawa sebesar 400.023 jiwa di seluruh Aceh.[9] Penyebarannya tidak semuanya terkonsentrasi kecuali yang didatangkan melalui program transmigrasi seperti di Patek (Aceh Jaya), Lembah Seulawah dan Janthoe (Aceh Besar), Jagong Jeget (Aceh Tengah), Trumon (Aceh Selatan), Peunaron (Aceh Timur), Subulussalam, dan banyak perkampungan yang sudah ada sebelum adanya program transmigrasi.

Bahasa

Bahasa Jawa tetap digunakan, tetapi telah berasimilasi dengan bahasa lokal yang ada di Aceh. Tidak banyak perubahan cuma beberapa konsonan dan vokal dan sedikit dialeknya yang telah menyesuaikan dengan bahasa lokal dan telah hilangnya letupan dental /b, /d, /th seperti layaknya orang Jawa di pulau Jawa. Dari segi bahasa, diperkirakan masih merupakan dialek bahasa Jawa. Namun, akibat pengaruh proses asimilasi kebudayaan yang cukup lama, kebanyakan dari suku Jawa, terutama yang tinggal pada mayoritas suku lokal sudah tidak bisa berbahasa Jawa lagi namun sudah menggunakan bahasa suku lokal di daerahnya, seperti menggunakan bahasa Gayo, Aceh dan lain sebagainya.[10][11]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Badan Pusat Statistik". www.bps.go.id. Diakses tanggal 2022-07-30. 
  2. ^ Kompasiana.com (2012-03-14). "Jawa Di Mata Aceh". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2021-01-25. 
  3. ^ Kompasiana.com (2020-09-21). "Dua Sisi Kehidupan Orang-orang Jawa di Aceh". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2021-01-25. 
  4. ^ "Kisah Perang Aceh (1)". Republika Online. 2020-03-26. Diakses tanggal 2021-01-25. 
  5. ^ Tradisi Pengajian Kliwonan Suku Jawa Di Gampong Krueng Itam Nagan Raya
  6. ^ Ago, Aroelin #aceh • 3 Years (2017-12-29). "KONFLIK ACEH DAN JAWA". Steemit (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-25. 
  7. ^ "Kaum muda Aceh menafsir sejarah". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-25. 
  8. ^ "Sejak Konflik, 19 Ribu KK Transmigran Asal Jawa Ngungsi dari Aceh". detiknews. Diakses tanggal 2021-01-25. 
  9. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. 
  10. ^ "Aceh, Tapi Jawa". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-25. 
  11. ^ Pola Komunikasi Lintas Budaya Antara Suku Aceh Dan Suku Jawa Di Gampong Kubang Gajah Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya[pranala nonaktif permanen]

Pranala luar

</noinclude>

Kembali kehalaman sebelumnya