Christian Simbar
Christian Simbar | |
|---|---|
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 5 Juli 1927 Madara, Hindia Belanda[1] |
| Meninggal | 29 Desember 1992 (umur 65) Kupang, Indonesia[2][3] |
| Makam | Makam Christian Simbar Desa Madara, Jalan Buntok – Palangka Raya Km. 46 1°35′40″S 114°39′57″E / 1.5944831°S 114.6657912°E |
| Partai politik | Partai Persatuan Dayak |
| Suami/istri | Rusine Tate (istri pertama?)[4] Nursiam (istri kedua?)[2] |
| Anak | Tidak diketahui |
| Agama[5] | Kristen (agama pertama) Kaharingan (agama kedua) |
| Etnis | Dayak Ma'anyan |
Christian Simbar, biasa disingkat Ch. Simbar dan dikenal dengan nama Uria Mapas atau Mandolin (5 Juli 1927 – 29 Desember 1992), adalah seorang tokoh dari Kalimantan Tengah. Dia dikenal sebagai komandan Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS) yang aktif memperjuangkan pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah, terpisah dari Kalimantan Selatan.
Kehidupan awal
Simbar lahir di Desa Madara pada 5 Juli 1927 dari seorang ayah yang juga bernama Simbar dan istrinya, Munan Pukau. Dia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ayahnya berasal dari Murutuwu, sedang ibunya berasal dari Dusun Kalahien. Simbar awalnya bernama sama seperti ayahnya. Nama "Christian" baru diperoleh saat dia dibaptis oleh Ethelbert Saloh, seorang pendeta Gereja Dayak Evangelis.[6]
Ayahnya, selain bekerja sebagai petani, juga seorang pemilik warung kecil di Madara. Panggilan "Mandolin" diperoleh dari salah satu merk kaleng biskuit yang dijual di warung tersebut.[7] Simbar menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Buntok pada masa penjajahan Jepang dan lulus pada 1943. Ia melanjutkan studinya di MULO Kuala Kapuas atau Normaalschool Muara Teweh dan lulus pada 1946. Menurut Marhaen Leiden, Simbar juga bersekolah di AMS Banjarmasin dan tamat pada 1949.[8] Setelah tamat sekolah, Simbar bekerja sebagai Kepala Juru Tulis di kantor Kawedanan Buntok.[9]
Mata kirinya buta akibat kecelakaan semasa kecil. Saat tengah mencari akar kayu di hutan bersama saudaranya, Ueng Simbar, mata kiri Simbar rusak karena tergores ujung parang. Kisah lain menyebut bahwa mata kirinya buta akibat tertusuk ranting saat mencari kayu untuk membuat ketapel. Oleh karenanya, ia kelak dijuluki "Matueh Pehe" yang dalam Bahasa Ma'anyan berarti "orang tua yang buta".[10]
Riwayat perjuangan
Pada 1950, Simbar mengikuti pertemuan rahasia yang digelar oleh Mahir Mahar dan Joenias Moses Nahan di Sekolah Rakyat Kristen Banjarmasin mewakili wilayah Barito. Pertemuan itu membahas nasib orang Dayak yang terancam oleh serangan-serangan KRJT (Kesatuan Rakjat jang Tertindas) pimpinan Ibnu Hadjar dan pentingnya pembentukan sebuah provinsi sendiri agar pembangunan juga dapat dirasakan oleh orang-orang Dayak di bagian tengah Kalimantan. Pertemuan itu menelurkan organisasi Panitia Penyalur Hasrat Kalimantan Tengah [11]
Dukungan antusias dari penduduk Buntok kepada Tentara Lawung lebih disebabkan kepada praktiknya, bukan gagasan atau idiologi gerakan tersebut, di mana dalam praktiknya yang bergaya seperti Robin Hood. Mereka merampok kapal dagang yang lewat dan membagikan hasilnya kepada masyarakat yang membutuhkan, dan juga untuk mereka. Tentara Lawung merampok kapal dagang di Karau, Negara, dan terakhir di Kalahien, dekat Buntok.[1]
Mereka bertindak dengan menyamar seperti otoritas berwajib, mengenakan seragam Aparat pemerintah. Mereka selama melakukan penggerebekan yang biasanya selalu di ikuti pembagian harta rampasan. Tapi kejadian di Kalahien pada akhir tahun 1953 nahas bagi mereka terlalu banyak polisi mengepung mereka, yang kemudian berakhir dengan ditangkapnya sejumlah anak buah Simbar saat merampok kapal dagang Cina, Gin Wan II. Empat orang yang ditangkap dan ditahan adalah kerabat simbar, dan dia memutuskan untuk menyerang kembali. Awal pagi Minggu, 22 November 1953, Simbar dan ratusan pengikut Dayaknya menyerbu kota Buntok. Mereka membebaskan rekan mereka yang dipenjara, tapi dalam proses pembebasan itu mereka membunuh enam polisi, serta enam anggota keluarga polisi tersebut, termasuk tiga anak. Kemudian kelempok ini melarikan diri dengan senjata yang di rampas dari gudang senjata polisi.[1]
Munculnya kekuatan bersenjata yang memonopoli kekerasan kemudian banting stir untuk kepentingan politik di daerahnya. Dari pada menjadi penjahat, Simbar dan kelompoknya yang semula terkooptasi berubah menjadi komoditas politik yang bermanfaat. Pada awalnya, milisi ini menarik perhatian kelompok-kelompok lokal yang dianggap mereka sebagai gerakan agama bukan sebagai kekuatan etnis. Dimana Suku Dayak beragama Kristen di Banjarmasin, menilai tentara lawung sebagai sekutu potensial untuk melawan Darul Islam, yang menimbulkan ancaman bagi agama mereka. Laporan tentang serangan oleh Kahar Muzakkar dan gerakan Darul Islam terhadap umat Kristen Toraja di Sulawesi Selatan telah menyebarkan ketakutan di seluruh jemaat gereja di seluruh Indonesia. Dan di Banjarmasin, ada cabang dari Darul Islam yaitu KRJT (Kelompok Rakjat Jang Tertindas) lazim disebut Gerombolan, yang telah membuat teror dan menimbulkan korban beberapa orang Kristen dan Pendeta di Labuhan dan Pegunungan Meratus. Sehingga pada bulan November 1953, Christoffel Mihing, seorang Dayak pegawai negeri sipil di Banjarmasin yang merupakan seorang Kristen taat, mengumumkan bahwa ia dan jemaatnya siap mengangkat senjata dan bertarung secara frontal untuk mendukung pemerintah Indonesia dan untuk melindungi diri terhadap konversi paksa ke Islam, oleh kelopok KRJT pimpinan Ibnu Hadjar.[1]
Christoffel Mihing ingin mendekati “Tentara Lawung” yang dipimpin Simbar untuk merancang sebuah program “perjuangan bersama”. Namun milisi Dayak “Tentara Lawung” lebih memilih perjuangan politik tanpa mengikut sertakan embel-embel agama, mereka lebih memilih perjuangan politik etnis yang mendukung terciptanya sebuah provinsi keempat, di mana orang Dayak memimpin secara otonom di Kalimantan. Sebuah isu yang sengaja mereka eksploitasi dan karena itu memang salah satu masalah pembangunan negara yang ada pada saat itu. Segera setelah serangan Buntok, pemimpin Suku Dayak beragama Kristen di Banjarmasin memilih untuk mendekati dan meminta perlindungan dari Gubernur Murdjani.[1]
Perjuangan Simbar dan kelompoknya tidak sia-sia, provinsi ke-4 di Kalimantan yakni Kalimantan Tengah akhirnya terwujud pada 23 Mei 1957. Semua berakhir dengan baik, Tjilik Riwut menjadi gubernur perdananya[a] dan Simbar hanya diberikan sedikit imbalan berupa uang sebagai ucapan terima kasih.[1]
Kehidupan selanjutnya dan kematian
Dikarenakan Simbar hanya diberikan upah yang sedikit, ia mencoba peruntungan melalui bisnis. Tidak adanya bakat untuk bisnis, akhirnya membuat ia menderita kebangkrutan, dan merasa diacuhkan. Pada tahun 1961, ia kembali ke hutan, dengan masih membayangkan bahwa ia akan berhasil secara politik dengan pengalamannya berjuang (sementara yang lain nyaman menikmati kontribusi Simbar yang tanpa lelah melobi di Jakarta).[1]
Dia telah melewati masa untuk bisa berharap menjadi gubernur setelah masa Tjilik Riwut itu berakhir, dan ini membuatnya marah. Mungkin dia tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan pengaruh imunitas, atau kekebalan hukum yang dulu ia nikmati. Simbar dianggap bocah bengal tukang bikin onar dan tidak ada isu yang membuat masyarakat tertarik dengannya.[1]
Simbar dikabarkan ditangkap dan ditahan sebagai seorang pesakitan di penjara militer di Balikpapan, Kalimantan Timur. Adik Simbar yaitu Damang Bubu Simbar menyesalkan di mana pemerintah melupakan kohort (akar) mereka sendiri, dan di mana sang pejuang harus tersisih dari daerahnya.[1]
Banyak yang menduga ia mati dieksekusi oleh militer di Balikpapan. Namun semua kabar tersebut dimentahkan setelah bertahun-tahun lamanya dan nampaknya dirahasiakan oleh pihak keluarga, di mana pria bernama Cristian Simbar menyembunyikan identitasnya menjadi Suryatim alias Pak Kasim dikatakan pihak kedokteran memiliki ciri-ciri identik dengan Simbar selama ini, dan hal tersebut akhirnya dibenarkan oleh pihak keluarganya. Bahwa Simbar diketahui meninggal dunia terkena penyakit gastritis kronis di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 29 Desember 1992.[2][1][3][13] Lalu makamnya dipindahkan ke Kalahien sekitar tahun 2010–2012 dan dipindahkan lagi ke kampung halamannya di Madara sekitar tahun 2010–2012.[4]
Catatan
- ^ Gubernur perdana Kalteng yang sebenarnya Raden Tumenggung Ario Milono tetapi karena ia hanya ditugaskan sebagai Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah oleh Kementerian Dalam Negeri,[12] jadi gubernur pertamanya adalah Tjilik Riwut.
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j Miter, Hadi Saputra (Rabu, 03 Oktober 2012). "Cristian "Mandolin" Simbar (Pahlawan Dayak yang tersisih)". Hadi Saptura Miter. Diakses tanggal 2025-02-14.
- ^ a b c "Foto saat Mandolin atau dikenal Christian Simbar dihantarkan doa-doa secara syariat Islam dirumah duka". www.instagram.com. seputaranplk. 23 September 2022. Diakses tanggal 9 Maret 2025.
- ^ a b Adi Suseno (2024-01-31). Redi Setiawan (ed.). "BATAMAD Dampingi Keluarga Almarhum Christian Simbar Bacakan Pernyataan Permohonan Untuk Pemprov Kalteng » Media Nasional Potret". Media Nasional Potret. Diakses tanggal 2025-02-14.
- ^ a b Syamsuddin Rudiannoor (5 Desember 2012). "MAKAM CHISTIAN SIMBAR DIMUTASI KE MADARA". Blogspot. Diakses tanggal 17 Maret 2025.
- ^ Apria Yemima Epipani (Agustus 2022). "Menemukan Nilai Kepemimpinan Christian Simbar Bagi Pendeta Gereja Kalimantan Evangelis Masa Kini". Jurnal Teologi Pambelum. Vol. 2 (No. 1). Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE: Hlm. 27 (4). doi:10.59002/jtp.v2i2.28. ISSN (Print), 2829-0550 (Online) 2088-8767 (Print), 2829-0550 (Online). ; ; ;
- ^ Saputra & Dubut 2024, hlm. 85.
- ^ Saputra & Dubut 2024, hlm. 86.
- ^ Saputra & Dubut 2024, hlm. 89.
- ^ Saputra & Dubut 2024, hlm. 97.
- ^ Saputra & Dubut 2024, hlm. 86,96.
- ^ Saputra & Dubut 2024, hlm. 20-21.
- ^ Sosilo, Herman (4 Juli 2013). "Sejarah Singkat Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah". Website Pemerintah Kalimantan Tengah. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-10-22. Diakses tanggal 27 Mei 2016.
- ^ "Usai Dilantik, Panglima BAKORMAD Ziarah Kubur Tokoh Pejuang Provinsi Kalimantan Tengah". Canal Berita. 2022-10-19. Diakses tanggal 2025-02-14.
Daftar Pustaka
- Saputra, Hadi; Dubut, Darius (2024). Jalan Merah Sang Kombatan: Sejarah Perjuangan CH. SIMBAR & GMTPS dalam Pergulatan Lahirnya Provinsi Kalimantan Tengah. Palangka Raya: PT Sinar Bagawan Khatulistiwa. ISBN 978-623-88971-2-4.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.

