Kleting

Kleting

Kleting

Kleting
Kleting
LahirKleting Titis Wigati
16 November 1981 (umur 44)
Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
PendidikanESMOD Jakarta
Istituto Marangoni Milano
Pekerjaan
  • Perancang busana
  • Pengusaha
  • Aktivis lingkungan
Tahun aktif2001–sekarang
Dikenal atasPendiri dan Direktur Kreatif KLÉ
Suami/istriWaizly Darwin
Anak2 (kembar)

Kleting Titis Wigati (lahir 16 November 1981) adalah seorang perancang busana, pengusaha, dan aktivis lingkungan asal Indonesia.[1] Ia adalah pendiri dan direktur kreatif dari label busana siap pakai KLÉ (ditulis sebagai KLE atau KLÉ).[2][3] Dikenal dengan desainnya yang berani dan tajam yang ditujukan bagi individu non-konformis yang mendambakan ekspresi diri melalui gaya pribadi mereka, Kleting telah menjadi tokoh terkemuka di industri mode Indonesia sejak debutnya di Jakarta Fashion Week pada tahun 2009.[2][1][4]

Kehidupan awal dan pendidikan

Kleting Titis Wigati lahir pada 16 November 1981 di Jakarta, Indonesia.[5] Ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat berkomitmen pada konservasi lingkungan.[6] Keluarganya membangun hutan kota di Tangerang Selatan untuk penyerapan air, sebuah kepedulian yang mereka pertahankan sejak tahun 1960-an.[6] Ia telah menjadi penyelam scuba yang rajin sejak usia 12 tahun, sebuah aktivitas yang menumbuhkan apresiasinya yang mendalam terhadap kehidupan laut dan lingkungan.[6]

Ia belajar mode di ESMOD Jakarta, di mana ia menerima penghargaan untuk pembuatan pola dan interpretasi desain pada tahun 2001.[7] Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Istituto Marangoni Milano School of Fashion, lulus dengan gelar di bidang Fashion Design pada tahun 2005.[5][1]

Karier

Awal karier (2001–2009)

Kleting memulai karier mode sebagai perancang lepas pada tahun 2001 saat masih kuliah.[1] Setelah lulus dari Istituto Marangoni pada tahun 2005, ia memperoleh pengalaman internasional yang berharga dengan bekerja di berbagai peran: sebagai editor mode dan stylist untuk berbagai majalah dan iklan televisi, sebagai asisten Pengembangan Produk untuk merek-merek seperti Miss Sixty, Killah, Sixty Men, dan Sixty Far East di Hong Kong, serta sebagai Desainer Produk untuk merek pakaian olahraga Italia Berik.[5][1]

Pada tahun 2008, ia terpilih sebagai salah satu dari 30 orang paling inspiratif di bawah 30 tahun oleh radio Hard Rock FM Jakarta.[8] Pada tahun yang sama, ia memenangkan Cleo "Young and Talented Designer" Fashion Award.[4]

Label fashion KLÉ (2009–sekarang)

Pada tahun 2009, Kleting mendirikan label busana siap pakainya sendiri, KLÉ (ditulis sebagai KLE), di Jakarta.[1][2] Desainnya digambarkan sebagai berani dan tajam, ditujukan bagi individu non-konformis yang mendambakan ekspresi diri.[2] Mereknya melakukan debut di Jakarta Fashion Week (JFW) pada tahun 2009, di mana ia sejak itu menggambarkan kariernya sebagai "dilahirkan" di panggung JFW.[1][3] Dari tahun 2009 hingga 2019, ia berpartisipasi dalam JFW setiap tahun, sering kali beberapa kali dalam setahun, dan menganggap periode ini sebagai era keemasan KLÉ, dengan penjualan yang kuat dan identitas desain yang konsisten.[1]

Pada masa awal, ia menghadapi tantangan besar sebagai desainer independen kecil. Ia menggambarkan dirinya sebagai bisnis "mikro, nano" dengan hanya 3-4 penjahit, sering menerima undangan pertunjukan hanya satu bulan sebelum acara dan harus mengelola segala sesuatu mulai dari desain hingga produksi hingga hubungan masyarakat sendiri.[1]

Pada JFW 2013, ia mempersembahkan koleksi "Samsung Presents KLE by Kleting Titis Wigati" yang menampilkan 22 busana yang terinspirasi dari alam.[9] Koleksi ini menampilkan warna-warna cerah termasuk merah, ungu, hijau, biru, dan kuning, dipadukan dengan warna yang lebih lembut seperti putih, abu-abu, dan krem, serta menampilkan celana tinggi, gaun longgar, dan rok lipit dengan aksesori etnik.[9] Ia menyatakan saat itu, "Saya ingin menginspirasi orang untuk lebih mencintai alam melalui koleksi saya."[9]

Pada tahun 2010, ia memamerkan Koleksi Fall/Winter 2010/2011 berjudul "The Aftermath" di Blu Martini, JW Marriott Hotel Jakarta.[10] Koleksi ini terinspirasi oleh dampak Perang Dunia II, termasuk ekspansi ekonomi dan kesulitan pemulihan pascaperang, dan didominasi oleh grafis gelap dan bayangan, warna hitam, abu-abu, dan putih, dengan desain pinggang tinggi yang sempit, pelapisan kain, dan gaun feminin yang flowy.[10]

Pada tahun 2014, ia memulai debut koleksi busana pria di JFW, memperluas mereknya di luar busana wanita.[1]

Selama pandemi COVID-19 pada tahun 2020, Kleting menghadapi krisis besar. Ia dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam peragaan busana tetapi dibatalkan karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), meskipun telah memproduksi banyak pakaian untuk mengantisipasi penjualan "lihat sekarang beli sekarang".[1] Ia harus menjual pakaian secara online dari rumah untuk menghindari kerugian besar.[1]

Hiatus dan kembalinya (2021–2026)

Pada tahun 2021, Kleting melahirkan anak kembar, anak pertamanya, pada usia 40 tahun.[1][2] Hal ini menyebabkan hiatus empat tahun dari industri mode untuk fokus pada keluarganya.[1][2]

Ia kembali ke industri pada Juli 2024 dengan peluncuran koleksi baru berjudul "Serumpun" di Fruition, Plaza Senayan, Jakarta.[11] Koleksi ini menampilkan busana siap pakai termasuk blus, blazer, celana tinggi, celana pendek, dan rok lurus dalam warna gelap dan hangat, serta warna yang lebih cerah seperti biru muda dan putih dengan garis-garis dinamis.[11] Ia juga meluncurkan lini peralatan rumah tangga baru, KLE Casa, yang terinspirasi oleh kecintaan keluarganya sendiri untuk menjadi tuan rumah dan menghibur, menampilkan peralatan makan dan furnitur dengan motif buah dan bunga yang digambar tangan.[11]

Kembali ke Jakarta Fashion Week 2026

Kleting melakukan comeback resminya ke peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2026 setelah absen empat tahun.[1][2] Acara ini sangat pribadi baginya, karena ia menggambarkan kariernya sebagai "dilahirkan" di panggung JFW.[1] Ia adalah salah satu dari sembilan desainer perempuan inspiratif yang ditampilkan dalam presentasi mode "Revival of Miracles" oleh POND'S Age Miracle, bersama Asti Surya, Velda Anabela, Rebecca Billina, Juliana Ng, Ansy Savitri, Vivian Mazuki, Ingrid Husodo, dan Fitria Vidyawati.[3] Acara ini merayakan kebangkitan para desainer ini setelah periode yang menantang.[3] Kleting merenungkan perjalanannya, menyatakan bahwa bertahan di industri mode Indonesia selama lebih dari 10 tahun adalah perjuangan, tetapi ia telah mempertahankan semangat dan idealisme.[1] Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kreativitas, mencatat bahwa ia mencari inspirasi tidak hanya dari buku mode tetapi juga dari isu-isu politik dan tren saat ini.[1]

Aktivisme lingkungan

Kleting telah aktif terlibat dalam konservasi lingkungan sejak kecil, sebuah nilai yang ditanamkan oleh keluarganya.[6] Ia telah menjadi penyelam scuba sejak usia 12 tahun dan secara teratur menyelam untuk mengapresiasi kehidupan laut.[6]

Kolaborasi dengan WWF

Pada tahun 2016, Kleting berkolaborasi dengan WWF Indonesia dan Galeries Lafayette dalam kampanye "#TogetherPossible for a Living Planet".[6] Ia merancang merchandise bertema laut, termasuk syal, tas jinjing, dan kaus, dengan sebagian hasil disumbangkan ke program konservasi laut WWF-Indonesia.[6] Selama kampanye, ia juga berbagi cerita tentang dunia bawah laut dengan anak-anak melalui kegiatan mendongeng, dengan keponakan dan teman-temannya (berusia 12-13 tahun) menjadi sukarelawan karena pengalaman menyelam mereka sendiri.[6] Ia menjelaskan, "Jika saya yang bercerita (tentang mencintai alam sejak dini), itu benar-benar masa lalu. Tetapi jika mereka yang bercerita, itu akan lebih menyentuh. Anak-anak seperti spons, mereka menyerap informasi dengan cepat."[6]

Sekolah Alam Tanah Tingal

Keluarga besar Kleting membangun Sekolah Alam Tanah Tingal (Tanah Tingal School) di daerah Tangerang Selatan, yang ditujukan untuk anak-anak dari Kelompok Bermain hingga Kelas 6 SD.[6] Sekolah ini mengajarkan anak-anak untuk menghormati bumi, menanam pohon, melestarikan air, dan memperkenalkan mereka pada berbagai spesies hewan, termasuk burung yang tidak lagi ada di kota.[6]

Advokasi mode berkelanjutan

Kleting juga telah berbicara tentang praktik mode berkelanjutan. Pada acara WWF #NatureXYouth, ia menyatakan bahwa setiap kali seseorang memproduksi satu pakaian, dibutuhkan satu galon air bersih, menyoroti dampak lingkungan dari industri tekstil.[6] Ia juga mencatat bahwa profesinya melibatkan "memulung" kain bekas dari gudang tekstil dan mendesain ulang agar layak pakai.[6]

Penghargaan dan pengakuan

  • 2001: Penghargaan ESMOD untuk pembuatan pola dan interpretasi desain[7]
  • 2008: Cleo "Young and Talented Designer" Fashion Award[4]
  • 2008: Salah satu dari 30 Orang Paling Inspiratif di Bawah 30 Tahun oleh Hard Rock FM Jakarta[8]
  • 2009: Pemenang CLEO Fashion Awards, kategori Talented Young Designer, di JFW 2010[4]
  • Best Fashion Designer di Clio Fashion Awards (tahun tidak disebutkan)
  • 2012–2019: Peserta tetap di Jakarta Fashion Week[1]

Kehidupan pribadi

Kleting menikah dengan Waizly Darwin dan mereka memiliki dua orang anak: anak kembar bernama Renjana dan Atmahati.[1][2] Ia melahirkan mereka pada tahun 2021 pada usia 40 tahun.[1] Ia telah menjadi penyelam scuba bersertifikat sejak usia 12 tahun.[6] Keluarganya telah terlibat dalam konservasi lingkungan sejak tahun 1960-an, setelah membangun hutan kota di Tangerang Selatan.[6]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u "Cerita Kleting Titis Wigati di Dunia Fashion Sejak 2009, dari JFW hingga Covid-19". KOMPAS.com. 2025-10-23. Diakses tanggal 2026-08-14.
  2. ^ a b c d e f g h "Rilis Koleksi KLE Sportswear, Desainer Kleting Kembali ke Marwah di JFW 2026". wolipop.detik.com. 2025-10-31. Diakses tanggal 2026-08-14.
  3. ^ a b c d "9 Desainer Perempuan Inspiratif Lawan Ageism di Fashion Presentation JFW 2026 X POND'S". medcom.id. 2025-10-21. Diakses tanggal 2026-08-14.
  4. ^ a b c d "Kleting: Semangat Positif Bikin Kerja Lebih Produktif". KOMPAS.com. 2012-05-16. Diakses tanggal 2026-08-14.
  5. ^ a b c "Kleting Titis Wigati". Istituto Marangoni. Diakses tanggal 2026-08-14.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o "Kleting Titis Wigati, Tumbuhkan Kecintaan Anak-anak pada Lingkungan Hidup". WWF Indonesia. 2017-09-11. Diakses tanggal 2026-08-14.
  7. ^ a b "Kleting Titis Wigati". ESMOD Jakarta. Diakses tanggal 2026-08-14.
  8. ^ a b "Hard Rock FM 30 Most Inspiring People Under 30". Hard Rock FM Jakarta. 2008. {{cite web}}: Menghilang atau kosong |url=
  9. ^ a b c "Back to Nature with Kleting". Jakarta Fashion Week. 2012-11-04. Diakses tanggal 2026-08-14.
  10. ^ a b "The Aftermath of a War According to KLe". Female Daily. 2010-08-05. Diakses tanggal 2026-08-14.
  11. ^ a b c "Kleting Kembali Lagi". KOMPAS.id. 2024-08-04. Diakses tanggal 2026-08-14.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.