Laluhan
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Laluhan atau perang air merupakan ritual adat suku Dayak Ngaju yang berada di Kuala Kapuas, yang mencerminkan keteguhan masyarakat dalam mempertahankan wilayah dari gangguan musuh.[1] Dulunya, upacara ini diselenggarakan untuk menghadapi peperangan dengan suku lain.[2]
Latar Belakang
Laluhan juga merupakan salah satu dari tiga ritual adat Dayak Ngaju yakni Mamapas Lewu, Laluhan dan Balian Ngarunya yang digelar secara rutin tiap tahun oleh masyarakat Kapuas sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Pemerintah Kabupaten Kapuas dari Hari Jadi Kota Kuala Kapuas. Pada tanggal 29 April 2024, Kabupaten Kapuas menerima penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Ritual Adat Laluhan dengan Batang Suli dan Perahu Terbanyak. Kegiatan ini melibatkan 100 perahu dan 1.000 batang suli (sejenis bambu).[3]
Bagi suku Dayak Ngaju yang menganut agama Hindu Kaharingan ketika saudara atau tetangga kampung mereka akan melaksanakan salah satu upacara adat yang dilakukan pada saat Tiwah. Selain menjadi bagian dari Upacara Tiwah, Laluhan dilaksanakan sebagai tradisi suku Dayak Ngaju untuk menyambut kemenangan setelah berhasil melawan penyakit yang melanda desa atau kota, mengalahkan musuh, membuang kesialan serta simbol dalam memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.[4]
Cara pelaksanannya
Laluhan berarti pemberian yag diantarkan menggunakan perahu.[5] Ritual ini menampilkan adegan yang menyerupai perang simbolik antar penumpang di atas kapal dan juga undangan yang sedang menunggu di atas dermaga. Kemudian, mereka saling melemparkan batang suli atau hapuni suli sebagai symbol pengganti senjata tombak dan kemudian diakhiri dengan mangarak/menetek pohon.[6]
Melempar batang suli sendiri mengandung makna membuang atau melemparkan sesuatu yang buruk agar terhindar dari bencana. Selain itu, batang pohon Suli juga diyakini mampu mengusir roh-roh jahat yang ingin mengganggu. Tanaman ini dipilih karena dianggap memiliki kekuatan simbolis untuk menolak bala dan mengusir roh-roh jahat. Batang suli yang digunakan dibentuk menyerupai tombak, tetapi ujungnya ditumpulkan agar tidak membahayakan peserta.[7]
Pelaksanaan ritual ini melibatkan dua kelompok, diantaranya satu kelompok berada di atas kapal yang bergerak di sungai dan kelompok lainnya menunggu di dermaga. Ketika kapal mendekati dermaga hingga mencapai jarak sekitar 30 meter, kedua kelompok mulai saling melempar batang suli. Aktivitas ini dilakukan sebagai bentuk representasi pertempuran adat dan penyucian ruang sosial masyarakat. Kegiatan Laluhan disaksikan oleh ribuan warga, yang berkumpul di tepi sungai.
Daftar Referensi
- ^ "Mengenal Ritual Adat Laluhan, Simbol Kegigihan Masyarakat Dayak dalam Pertahankan Wilayah dari Gangguan Musuh". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ "Upacara Manajah Antang". antorij.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ tedihouse. "Ritual Adat Laluhan dengan Batang Suli dan Perahu Terbanyak". https://muri.org/Website/Rekor_detailritual_adat_laluhan_dengan_batang_suli_dan_perahu_terbanyak (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Puadi, Asrari (13 Februari 2016). [Bagi suku Dayak Ngaju yang menganut agama Hindu Kaharingan ketika saudara atau tetangga kampung mereka akan melaksanakan salah satu upacara adat yang dilakukan pada saat Tiwah dalam menyambut kemenangan setelah berhasil melawan penyakit yang melanda desa atau kota, mengalahkan musuh, membuang kesialan serta simbol dalam memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. "Ritual Laluhan dalam Tradisi Dayak Ngaju"]. Good News From Indonesia.
- ^ Lapro (2024-04-29). "Ritual Laluhan, Budaya Masyarakat Suku Dayak Ngaju". Bajenta News. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ "Ritual laluhan » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Home; Terkini; News, Top; Terpopuler; Nusantara; Nasional; Daerah, Kabar; Internasional; Bisnis (2025-04-22). "Tradisi Laluhan di DAS Kapuas berlangsung meriah". Antara News Kalteng. Diakses tanggal 2025-06-17.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.