Mihing
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |

Mihing adalah alat penangkap ikan tradisional khas suku Dayak di Kalimantan Tengah. Mihing dulunya hanya dikenal oleh masyarakat Dayak Ngaju, khususnya beberapa desa yang ada di bantaran Sungai Kahayan.[1]
Menurut Kitab Panaturan Suku Dayak Ngaju (kitab suci Hindu Kaharingan), kata mihing berasal dari bahasa Sangiang (alam atas, alam roh) atau bagasa Sangen. Mihing juga dikenal dengan sebutan mihing manasa, yang berarti memasuki. Dengan demikian, mihing manasa dapat diartikan sebagai penangkap untuk masuknya ikan, atau benda yang berisi penuh dengan ikan (panen ikan).[2]
Legenda
Mihing memiliki kaitan erat dengan legenda Rangan Mihing yang merujuk pada seorang kesatria Dayak bernama Bowak dari Desa Tumbang Danau, Kecamatan Mihing Raya, Gunung Mas. Bowak sehari-hari bekerja sebagai pemelihara babi. Awalnya ia bekerja dengan tekun dan rajin.[2]
Suatu saat, Bowak merasa lelah dan jenuh dengan pekerjaannya. Ia memotong batang keladi untuk pakan babi, kemudian mengeluh: "Narai kajarian kea gawi kalutuh, nasang tingang dia bahelat andau, maraga kalawet isen sankelang pandang kalaman." Artinya: kapan pekerjaan ini berakhir.[2]
Ucapan Bowak terdengar oleh Sangiang (Dewa Langit). Ia tertarik dan memerintahkan bawahannya untuk menjemput Bowak ke langit. Saat sudah berada di tempat Raja Langit, Bowak diuji kemampuannya. Salah satu ujian yang dihadapi adalah berburu burung Tingang dengan menggunakan sipet. Sebagai seorang pemburu, ujian itu terasa mudah bagi Bowak. Ia pun terkenal di seantero langit karena mampu menaklukkan tantangan dan melakukan pekerjaan dengan baik.[2]
Suatu hari, Raja Langit memerintahkan para dewa untuk membuat mihing. Ia khawatir Bowak akan mencuri barang yang mereka buat atau melihat cara pembuatannya. Raja Langit memerintahkan Sawahung untuk menempatkan Bowak di suatu tempat yang disebut Sambah Gandang Garantung Manah (balai tempat penyimpanan musik Gandang Garantung).[2]
Bowak memiliki rasa penasaran. Ia mengelabui para penjaga dan mengaku bisa melihat pembuatan mihing. Ia pun dipindahkan ke Balai Jala Bulau Nihing Langit. Ia kembali mengelabui penjaga dan mengaku bisa melihat. Bowak kembali dipindahkan, tetapi ke tempat terbuka. Bowak pun pura-pura tidak bisa melihat pembuatan mihing, padahal ia bisa melihat dan diam-diam mengingat cara pembuatannya.[2]
Saat mihing selesai dibuat, Bowak terkejut karena melihat banyak harta benda seperti balanga, gong, emas, intan, dan sebagainya masuk ke dalam mihing.[2]
Kembali ke bumi, Bowak diceritakan berhasil memperdaya para dewa, dengan menciptakan alat magis untuk menjaring harta benda penduduk bumi, yang kemudian disebut mihing.[1]
Beberapa hari kemudian, setelah selesai membuat Mihing, Bowak menaburkan beras. Pada waktu itu juga berdatangan segala guci antik, benda kerajinan tangan, ukiran emas dan perak, kuningan, hingga segala macam piring dan mangkuk yang mahal harganya menuju Mihing tersebut.[3]
Penduduk kampung bersorak kegirangan mengambil harta benda, lalu membawanya pulang ke rumah masing-masing. Sementara orang-orang di Sangiang gempar karena harta kekayaan mereka bergerak-gerak dan merayap, hingga harta benda tersebut lenyap dari dalam rumah mereka, terbang menuju dunia lain.[3]
Sahawung lalu turun ke Pantai Danum Kalunen untuk melihat apakah itu perbuatan Bowak, dan terbukti benar. Ia memanggil Bowak dan mengingatkan orang-orang kampung bahwa harta benda yang berasal dari mihing akan membuat mereka malas bekerja, padahal kodrat manusia adalah harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan.[2]
Singkat cerita, para dewa memerintahkan Bowak menghentikan perbuatannya, sejak itu mihing tidak boleh digunakan di atas tanah, melainkan digunakan di sungai untuk menangkap ikan.[1] Mihing hanya boleh digunakan di Sungai Kahayan, batasnya dari hilir Sungai Kahayan (Desa Tangkahen, Kecamatan Banama Tingang, Pulang Pisau) sampai hulu Sungai Kahayan (Desa Rangan Mihing, Kecamatan Tewah, Gunung Mas).[2]
Mihing memiliki ukuran asli panjang 70 depa dan lebar 7 depa. Satu depa setara dengan 1,8288 meter. Ukurannya yang sangat besar menjadi salah satu alasan mengapa mihing hanya bisa digunakan di Sungai Kahayan.[4]
Kisah lain menceritakan bahwa mihing sendiri yang jatuh ke sungai. Mihing tiba-tiba bergerak sendiri dan terjun masuk ke dalam air. Kemudian, orang-orang melihat kawanan ikan besar dan kecil mulai berkerumun di situ.[3]
Perhatian orang segera beralih, mihing bukan lagi menangkap harta benda, tetapi menangkap berbagai jenis ikan, seperti sapan, jelawat, patin, tabiring, balida dan banyak lagi jenis ikan yang lain.[3]
Dalam Kitab Panaturan,[2] mihing disebutkan menjadi alat penangkap ikan dan menarik perhatian ikan-ikan untuk berdatangan masuk ke dalam mihing. Mihing juga dipercaya pembawa rejeki, baik di dunia fana maupun baka.[1]
Bahan Pembuatan
Mihing dibuat dari bermacam-macam jenis kayu. Masing-masing mempunyai makna khusus yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut ngguang, dumah, palus, tuntang tame. Artinya, berkunjung datang, masuk, ke dalam.[5]
Kayu untuk bahan pembuatan mihing adalah:
- Kayu tabulus, hakikatnya silakan (palus);
- Kayu Tate, hakikatnya masuk (tame);
- Kayu Kaja, hakikatnya datang (dumah);
- Kayu Banuang, hakikatnya berkunjung (ngguang);
- Kayu Marakuwung, hakikatnya Mihing adalah tempat yang disukai;
- Bambu paligkau, hakikatnya benda atau binatang harus datang ke mihing;
- Uei paka atau uei banturung atau uei tapah, hakiaktnya benda atau binatang hanya datang ke mihing saja;
- Uei anak, hakikatnya benda atau binatang yang masuk ke mihing seperti anak kecil yang penurut.[5]
Cara Membuat
Membuat Mihing tidak boleh sembarangan, ada tata cara dan aturan yang harus diikuti. Salah satunya adalah pemilihan jenis dan letak kayu yang harus disesuaikan. Kemudian, nama ikatan dan tempatnya masing-masing juga tidak boleh tertukar.[3]
Rotan yang digunakan sebagai pengikat dan penyimpai, harus berasal dari jenis rotan yang khusus untuk membuat Mihing dan adanya di hutan rimba, sehingga tidak boleh memakai rotan sembarangan, apalagi memakai tali atau paku.[3]
Selain itu, batu pemberat (jangkar) juga ditentukan menggunakan batu pertama Bowak zaman dahulu kala. Seiring waktu, batu tersebut hanya berupa pecahannya yang terkecil.[3]
Selama membuat mihing tidak boleh berbicara kurang sopan atau berselisih faham. Perempuan dilarang melihat atau memasuki bagian dalam mihing, karena ikan bakal enggan masuk, dan menurut kepercayaan dapat mengakibatkan keguguran atau meninggal dunia saat melahirkan.[5]
Namun saat ini keberadaan mihing tidak ditemukan lagi, orang yang bisa membuatnya pun sudah meninggal. Koleksi mihing yang ada di Museum Balanga sudah lama dibuat oleh saksi mata, yang pernah melihat kerangka mihing terakhir.[2]
Cara Menggunakan
Dalam pengoperasiannya, mihing berbeda dengan alat penangkap ikan lainnya, di mana salah satu cara kerja mihing, yakni digunakan tidak berjalan, melainkan berdiam tidak bergerak. Biasanya, mihing dipasang ketika air sungai meluap atau banjir.[1]
Cara menggunakan mihing, benda itu harus diletakkan tepat di tengah sungai. Ujung mihing di bagian kapatung ditenggelamkan ke dasar sungai, sementara ujung lainnya ada di permukaan sungai, tujuannya agar ikan bisa terjebak. Setelah diletakkan, mihing diikat di beberapa bagian agar tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.[2]
Pada bagian belakang mihing terdapat satu bagian yang disebut suling riwut. Ketika tertiup angin, akan mengeluarkan suara merdu dan mengalun, sehingga memanggil ikan dari berbagai tempat. Masyarakat meyakini percaya bahwa mihing bukan sekadar alat penangkap ikan, tetapi alat pemanggil ikan.[4]
Setelah mihing diikat, maka tinggal menunggu waktu panen. Berhubung arah mulut kapatung berlawanan dengan arah arus sungai, ikan akan terseret arus dan masuk ke dalam mihing. Ikan yang terjebak tidak bisa keluar lagi karena dorongan arus yang kuat dari kapatung, sehingga otomatis ikan akan terdorong ke bagian mihing yang tinggi. Saat posisi mihing meninggi, air akan keluar dari sela-sela belahan bambu.[2]
Saat memanen ikan, orang zaman dulu tidak menggunakan senjata tajam seperti tombak, mereka meyakini tidak boleh ada darah ikan di sekitar mihing. Maka untuk memanen ikan, orang-orang menggunakan tangan kosong atau alat tangkap sejenis serok.[2]
Referensi
- ^ a b c d e "Menyimak Cerita Magis 'Mihing' Pemanggil Ikan Suku Dayak | Media Center Isen Mulang Palangka Raya". mediacenter.palangkaraya.go.id. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n Latif, Husrin A. (2023-01-07). "Ternyata Begini, Asal-usul Mihing Tercipta". KaltengPos. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b c d e f g "Berbeda Alat Penangkap Ikan Lainnya, Asal Usul Mihing Khas Suku Dayak Kalimantan Tengah". Tribunkalteng.com. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b M.A (2023-01-07). "Mihing Tinggal Kenangan - KaltengOnline.com UTAMA". KaltengOnline.com. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b c "mihing » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-05-31.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.