Presenteisme


Presenteisme atau bekerja saat sakit adalah tindakan atau budaya karyawan yang tetap bekerja sebagai ukuran kinerja meskipun tingkat keproduktifannya berkurang atau ada akibat negatifnya. Berkurangnya keproduktifan selama presenteisme atau kehadiran acap kali disebabkan oleh penyakit, cedera, kelelahan, atau keadaan lain, tetapi presenteisme juga dapat menggambarkan bekerja saat sakit menular yang berisiko tambahan untuk menimbulkan wabah di tempat kerja.

Banyak motif berbeda yang dapat menyebabkan presenteisme.[1] Seorang karyawan mungkin masuk kerja karena hanya membutuhkan uang dan tidak mampu mengambil cuti karena sakit. Para dokter mungkin masuk kerja saat sakit karena merasa tidak dapat digantikan. Selain itu, seseorang dapat pergi bekerja karena kecintaan dan pengabdiannya pada pekerjaan tersebut. Dalam hal ini, ini dapat dianggap sebagai tindakan kewargaan organisasi dan menimbulkan kekaguman dari rekan kerja.[1] Alasan yang lain termasuk merasa bahwa prospek karier mungkin rusak jika mengambil cuti dan manajemen mengharapkan kehadirannya.

Presenteisme sudah tertanam dalam budaya industri dan wilayah tertentu di dunia. Di Singapura dan negara Asia Timur yang lain, ini merupakan praktik umum bagi karyawan untuk tetap berada di kantor bahkan setelah pekerjaan selesai dan menunggu hingga atasan pulang.[2] Pekerjaan dengan beban kerja yang besar acap dikaitkan dengan presenteisme. Pekerjaan tertentu seperti kesejahteraan sosial dan mengajar mungkin lebih rentan terhadap presenteisme.[butuh rujukan] Peranjing kerja dan orang-orang yang mendasarkan harga diri pada kinerja biasanya menunjukkan tingkat presenteisme yang lebih tinggi.

Meskipun hal absenteisme yang berbeda dari segi sejarah mendapat perhatian yang luas dalam ilmu manajemen, presenteisme saat ini baru dipelajari akhir-akhir ini.[1]

Penyebab Presenteisme dalam MSDM

Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) presenteisme terjadi karena kombinasi faktor individu, pekerjaan, dan organisasi. Beberapa penyebab utama meliputi:

  1. Masalah Kesehatan Fisik dan Mental. Karyawan sering tetap bekerja meskipun mengalami penyakit fisik atau gangguan mental karena merasa kondisinya belum cukup parah untuk izin sakit. Kondisi ini sering diperburuk oleh kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai atau kebijakan cuti sakit yang tidak fleksibel. Selain itu, sebagian karyawan merasa takut dianggap tidak profesional jika beristirahat, sehingga memilih tetap hadir meski tidak fit[3][4].
  2. Tekanan dan Tuntutan Kerja. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, kekurangan staf, lembur, serta tekanan dari atasan atau rekan kerja meningkatkan kecenderungan hadir saat sakit. Lingkungan kerja yang sangat kompetitif dapat membuat karyawan merasa terbebani untuk menunjukkan komitmen melalui kehadiran terus-menerus. Selain itu, beban tugas yang menumpuk membuat mereka khawatir tugas akan tertinggal jika mengambil cuti sakit[5][6].
  3. Ketidakamanan Kerja dan Faktor Ekonomi. Ketakutan terhadap teguran, kehilangan kesempatan promosi, atau potensi berkurangnya pendapatan mendorong karyawan tetap masuk meski sedang sakit. Kondisi ini lebih kuat terjadi pada pekerja kontrak atau pekerja dengan pendapatan rendah yang sangat bergantung pada jam kerja. Ketiadaan jaminan sosial atau cuti sakit berbayar semakin memperburuk kecenderungan hadir meski tidak sehat[7][8]
  4. Budaya Organisasi. Pada organisasi dengan budaya kerja yang tidak suportif, tingkat kepuasan kerja rendah, dan minimnya dukungan manajerial memperkuat perilaku presenteeism. Organisasi yang mengutamakan presensi dibandingkan produktivitas cenderung menciptakan norma tidak tertulis bahwa absen adalah tindakan negatif. Ketidakterbukaan dalam komunikasi antara karyawan dan manajemen mengenai kondisi kesehatan turut memperkuat perilaku ini[9][10].
  5. Keyakinan Pribadi. Sebagian karyawan beranggapan bahwa perannya sangat penting sehingga harus hadir, atau merasa bahwa sakit yang dialami tidak cukup menjadi alasan absen. Karyawan sering memiliki komitmen kerja yang tinggi atau rasa tanggung jawab yang berlebihan terhadap tim sehingga merasa bersalah jika tidak hadir. Di sisi lain, beberapa karyawan meremehkan gejala awal penyakit sehingga tetap bekerja tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang[11]

Lihat pula

Rujukan

  1. ^ a b c Johns, G. (2010): Presenteeism in the Workplace: A review and research agenda. Journal of Organizational Behavior, 31, 519-542. DOI:10.1002/job.630
  2. ^ "Singapore residents working fewer hours since 2010: MOM report". TODAYonline.
  3. ^ Chandrakumar, Divyakala; Arumugam, Vasumathi; Vasudevan, Asokan (2024-05-20). "Exploring presenteeism trends: a comprehensive bibliometric and content analysis". Frontiers in Psychology (dalam bahasa English). 15. doi:10.3389/fpsyg.2024.1352602. ISSN 1664-1078. PMC 11144874. PMID 38831942. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  4. ^ Yang, Na; Wang, Dandan; Wei, Chen; Wang, Jingwen; Yuan, Liping (2025-08-15). "An analysis of the mediating effect of presenteeism between job crafting and organizational silencing in junior nurses: a cross sectional study". Frontiers in Psychology (dalam bahasa English). 16. doi:10.3389/fpsyg.2025.1611392. ISSN 1664-1078. PMC 12394173. PMID 40893860. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  5. ^ Magalhães, Sónia; Barbosa, Joselina; Borges, Elisabete (2022-04-21). "The relationship between presenteeism, quality of life and social support in higher education professionals: A cross-sectional path analysis". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 17 (4): e0267514. doi:10.1371/journal.pone.0267514. ISSN 1932-6203. PMC 9022867. PMID 35446913. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  6. ^ Deng, Jianwei; Li, Yaxin; Sun, Yangyang; Lei, Run; Yang, Tianan (2019-09-03). "Public service motivation as a mediator of the relationship between job stress and presenteeism: a cross-sectional study from Chinese public hospitals". BMC Health Services Research (dalam bahasa Inggris). 19 (1): 625. doi:10.1186/s12913-019-4483-5. ISSN 1472-6963. PMC 6724293. PMID 31481038. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ^ Halbesleben, Jonathon R. B.; Whitman, Marilyn V.; Crawford, Wayne S. (2014-06-01). "A dialectical theory of the decision to go to work: Bringing together absenteeism and presenteeism". Human Resource Management Review. 24 (2): 177–192. doi:10.1016/j.hrmr.2013.09.001. ISSN 1053-4822.
  8. ^ Kim, Namhoon; Mountain, Travis P. (2018-02-01). "Do we consider paid sick leave when deciding to get vaccinated?". Social Science & Medicine. 198: 1–6. doi:10.1016/j.socscimed.2017.12.011. ISSN 0277-9536.
  9. ^ Min, Ari; Hong, Hye Chong (2023-03-01). "The Effects of Job Demand-control-support Profiles on Presenteeism: Evidence from the Sixth Korean Working Condition Survey". Safety and Health at Work. 14 (1): 85–92. doi:10.1016/j.shaw.2022.12.001. ISSN 2093-7911. PMC 10024180. PMID 36941940.
  10. ^ Shdaifat, Emad; Alshowkan, Amira (2025-01-01). "Global research presenteeism trends: A bibliometric analysis and knowledge mapping". International Journal of Africa Nursing Sciences. 23: 100892. doi:10.1016/j.ijans.2025.100892. ISSN 2214-1391.
  11. ^ Halbesleben, Jonathon R. B.; Whitman, Marilyn V.; Crawford, Wayne S. (2014-06-01). "A dialectical theory of the decision to go to work: Bringing together absenteeism and presenteeism". Human Resource Management Review. 24 (2): 177–192. doi:10.1016/j.hrmr.2013.09.001. ISSN 1053-4822.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.