Tampubolon
| Tampubolon | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Aksara Batak | ᯖᯔ᯲ᯇᯮᯅᯬᯞᯬᯉ᯲ (Surat Batak Toba) | ||||||||||||||
| Nama marga | Tampubolon | ||||||||||||||
| Arti | tampuk + na + bolon (tangkai daun/buah yang besar) | ||||||||||||||
| Silsilah | |||||||||||||||
| Jarak generasi dengan Siraja Batak |
| ||||||||||||||
| Nama lengkap tokoh | Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) | ||||||||||||||
| Nama istri | |||||||||||||||
| Nama anak |
| ||||||||||||||
| Kekerabatan | |||||||||||||||
| Induk marga | Tuan Sihubil | ||||||||||||||
| Persatuan marga | Tuan Sihubil | ||||||||||||||
| Kerabat marga | |||||||||||||||
| Turunan |
| ||||||||||||||
| Matani ari binsar | Sitorus | ||||||||||||||
| Padan | |||||||||||||||
| Asal | |||||||||||||||
| Suku | Batak | ||||||||||||||
| Etnis | Batak Toba | ||||||||||||||
| Daerah asal | Balige, Toba | ||||||||||||||
| Kawasan dengan populasi signifikan | |||||||||||||||
Tampubolon (Surat Batak: ᯖᯔ᯲ᯇᯮᯅᯬᯞᯬᯉ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba. Leluhur marga Tampubolon adalah Raja Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon, anak tunggal dari Tuan Sihubil yang berasal dari daerah Balige, Toba.
Etimologi
Secara etimologi, nama Tampubolon dalam bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata tampuk na, dan bolon yang memiliki arti tangkai daun atau buah yang besar. Hal tersebut mengacu kepada:
- Kata tampuk dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai tangkai daun atau buah,
- Kata Bolon dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai besar maupun agung.
Asal
Menurut silsilah garis keturunan orang Batak (tarombo), Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) adalah generasi ketujuh dari Si Raja Batak dan anak pertama dari Tuan Sihubil.
Dalam perkembangannya, Keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) mengklasifikasikan diri ke dalam dua marga dan enam kelompok:
- Mataniari
- Marga Baringbing
- Marga Silaen
- Sibolahotang
- Sitampulak
- Ulubalang Hobol
- Sitanduk
- Sibulele
- Lumban Atas
Salah satu cucu dari Tampubolon yaitu Badiaraja merantau ke arah selatan tepatnya di kawasan Silindung dan mengasuh keturunan Raja Toga Sitompul, kelak di mana seluruh keturunan Badiaraja juga menggunakan marga Sitompul.
Dua cucu dari Tampubolon (Alang Pardosi dan Raja Unduk) juga merantau ke wilayah Barus, Tapanuli Tengah dan menggunakan marga kakek buyutnya yaitu Pohan. Keturunan Raja Unduk juga dipercayai sebagai pengguna marga Karokaro Barus hingga saat ini.
Kekerabatan
Seluruh keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) memiliki hubungan erat dengan satu sama lain; mereka memegang teguh ikatan persaudaraan untuk tidak menikah antar satu dengan yang lain.
Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) menikah dengan boru Sitorus, oleh sebab itu Hulahula (mata ni ari binsar) dari seluruh marga Tampubolon adalah marga Sitorus.
Kekerabatan dengan marga Silalahi
Marga Tampubolon memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan marga Silalahi dikarenakan Raja Bungabunga/Raja Parmahan Silalahi yang merupakan cucu dari Raja Silahi Sabungan telah diangkat oleh Tuan Sihubil sebagai anak angkat dan menjadikannya sebagai adik dari Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon). Oleh sebab itu keturunan dari Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) dan Raja Bungabunga/Raja Parmahan Silalahi memegang teguh persaudaraan tersebut hingga saat ini.
Kekerabatan dengan marga Sitompul
Marga Tampubolon juga memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Sitompul. Hubungan tersebut menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon (Tampubolon) bermula ketika Badiaraja (cucu Raja Sapala Tua Tampuk Nabolon/Anak Raja Mataniari) memiliki konflik dengan saudaranya Sondiraja sehingga menyebabkan Badiaraja pergi meninggalkan kampung asalnya Balige ke arah selatan tepatnya di kawasan Silindung. Di sana Badiaraja dengan menggunakan nama Raja Somundur berhasil membunuh babi hutan yang telah menewaskan Ompu Hobolbatu, yakni cicit tunggal Raja Sitompul. Badiaraja kemudian direstui oleh ibu Ompu Hobolbatu sebagai pewaris harta peninggalan oleh Ompu Hobolbatu beserta kedua istri Ompu Hobolbatu yang tengah mengandung. Badiaraja juga berikrar akan menganggap dirinya sebagai pengganti Ompu Hobolbatu dan keturunannyapun akan menggunakan marga Sitompul. Kedua istri Ompu Hobolbatu yang telah menjadi Istri Badiaraja kemudian melahirkan masing-masing satu anak yang dibuahi oleh Ompu Hobolbatu, dan setelah menikah dengan Badiaraja kembali mengandung dan juga melahirkan masing-masing satu anak bagi Badiaraja. Keempat anak tersebut adalah:
- Sabar Dilaut (Sitompul Lumbantoruan) - anak Ompu Hobolbatu
- Handang Dilaut (Sitompul Lumbandolok) - anak Ompu Hobolbatu
- Sabuk Nabegu (Sitompul Siringkiron) - anak Badiaraja
- Lintong Ditao (Sitmpul Sibangebange) - anak Badiaraja
Namun sesuai dengan ikrar Badiaraja yang berjanji akan menjadi pengganti Ompu Hobolbatu, keempat anak tersebut beserta seluruh keturunannya menggunakan marga Sitompul. Semasa hidupnya juga Badiaraja berpesan kepada keempat anaknya Badia Raja agar menjunjung tinggi marga Sitompul, dan tidak membedabedakan yang mana sebenarnya berdarah Sitompul dan yang mana berdarah Tampubolon.
Di masa tuanya, Badiaraja berdamai dengan Sondiraja dan mereka mengadakan tanda persaudaraan dengan makan dan menggigit bersama perut (boltok) daging babi. Sejak saat itu hingga sekarang ini hubungan kekerabatan antara marga Tampubolon dan Marga Sitompul dipegang teguh oleh keturunan kedua marga, dan juga disebut hubungan kedua marga tersebut sebagai marsaboltok atau satu perut Bahasa Batak Toba.
Tokoh
Beberapa tokoh bermarga Tampubolon, di antaranya adalah:
Beberapa tokoh marga Tampubolon yang menggunakan nama Baringbing dan Silaen sebagai nama marganya, di antaranya adalah:
Galeri
-
Tugu Raja Niapul Tampubolon di Desa Sibolahotang Sas
-
Tugu Raja Niapul Tampubolon di Desa Sibolahotang Sas
-
Prasasti peresmian Tugu Raja Niapul Tampubolon
-
Prasasti peresmian Tugu Raja Niapul Tampubolon
Sumber
- Hutagalung, W.M. (1991), Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, hlm. 223–225
- Siahaan, Amanihut N.; Pardede, H. (1957), Sejarah perkembangan Marga - Marga Batak
- Radjagukguk, Bostang (2014), Sitompul, hlm. 9–11
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.