Teuku Ben Mahmud
Teuku Bentara Mahmud Setia Raja | |
|---|---|
Teuku Ben Mahmud bersama awak kapal van Doorn dalam perjalanan menuju tempat pengasingan di Maluku | |
| Ulèëbalang Nanggroë Blangpidië | |
| Wakil Sultan Atjeh; Radja Blang-Pidië | |
| Masa jabatan 1882–1909 | |
| Presiden | Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat |
Pendahulu Teuku Ben Abbas Teuku Nyak Sawang (de jure) Pengganti Teuku Banta Sulaiman | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | c. 1860 |
| Meninggal | 28 Maret 1974 (umur 114) |
| Suami/istri | 4 istri di Aceh dan 2 istri di Halmahera |
| Hubungan | Teungku Chik di Rundeng (mertua) Habib Mustafa Sawang (menantu) |
| Anak | 10 anak di Aceh ditambah 1 anak di Halmahera |
| Orang tua | Teuku Ben Abbas (ayah) Cut Meuh (ibu) |
| Pekerjaan | Uléëbalang, Panglima perang |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Masa dinas | 1875-1908 |
| Pangkat | Bentara |
| Pertempuran/perang | Perang Aceh
Perang Batak membantu Sisingamangaraja XII Pendudukan Jepang di Indonesia |
Teuku Bentara Mahmud Setia Raja, lebih dikenal sebagai Teuku Ben Mahmud atau Teuku Ben Blangpidie, adalah seorang panglima perang dan ulèëbalang dari Aceh yang memimpin perlawanan gerilya terhadap kolonialisme Belanda selama lebih dari satu dasawarsa. Lahir sekitar tahun 1860 di Blangpidie, ia diangkat langsung oleh Sultan Aceh sebagai Wakil Sultan Aceh di Blangpidie, dengan gelar resmi “Teuku Bentara Blang Mahmud Setia Raja, berkuasa memegang hukum dengan adat dan wali dan lain-lain.”[1]
Ia dikenal sebagai tokoh yang menolak keras Korte Verklaring dan jabatan Zelfbestuurder, serta memimpin perang gerilya di wilayah pesisir barat Aceh hingga ke dataran tinggi Gayo, Tanah Alas, dan perbatasan Tanah Batak. Teuku Ben Mahmud juga menjalin aliansi strategis dengan pejuang Batak, Sisingamangaraja XII, sebagai simbol solidaritas antaretnis dalam perjuangan melawan penjajahan.
Karena pengaruhnya yang luas, ia akhirnya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Maluku Utara. Di sana, ia tetap menjadi pemimpin moral dan dikenal oleh masyarakat setempat sebagai "Tete Aceh". Ia wafat pada 28 Maret 1974 dalam usia sekitar 114 tahun, dan dimakamkan di Bukit Rahmat, Saramaake, Wasile Selatan, Halmahera Timur.[2]
Kehidupan awal
Teuku Bentara Mahmud lahir di Kuta Tuha, Blangpidie, Aceh Barat Daya sekitar tahun 1860.[3] Ayahnya bernama Teuku Bentara Nyak Abbas (juga disebut Teuku Ben Abbas) bin Teuku Nyak Bentara Seri Si Agam (juga disebut Teuku Ben Agam atau Nyak Ben, pendiri Kota Blangpidie)[4] yang berasal dari Mukim Gampong Lhang Tijue, Pidie.
Saat masih muda, Teuku Ben Mahmud digelari oleh Datuk Susoh dengan sebutan Anak Bergumbak. Gelar ini kerap digunakan oleh para pangeran Minangkabau. Datuk Susoh yang berjumlah lima orang yaitu Datuk Tuha, Datuk Baginda, Datuk Kabong (Datuk Muda), Datuk Pawoh, dan Datuk Rawa[5] mengatakan Datuk Balimo Taraso Baranam dengan Anak Bergumbak.[1] Pada tahun 1882, Teuku Ben Mahmud diangkat oleh Sultan Aceh menjadi uleebalang Blangpidie dengan gelar Teuku Bentara Blang Mahmud Setia Raja.
Pada awal abad ke-19 terjadi perebutan kekuasaan di Kuta Batee antara beberapa pemimpin koloni dari Pidie dengan Aceh Besar. Hingga kemudian Tuanku Pangeran Husein bin Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah (1836-1869) dapat mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai sekaligus memberikan cap seuteungoh kepada Teuku Ben Abbas dari trah Pidie sebagai uleebalang Kuta Batee yang selanjutnya disebut Blangpidie yang merdeka dari Kenegerian Susoh.
Setelah Teuku Ben Abbas meninggal dunia, kepemimpinan kenegerian Blangpidie dilanjutkan oleh Teuku Ben Mahmud. Namun dikarenakan Teuku Ben Mahmud masih kecil. Pemerintahan dkendalikan oleh pamannya bernama Teuku Nyak Sawang gelar Raja Muda Blang Pedir yang bertindak sebagai pemangku raja Blangpidie sekaligus uleebalang Pulau Kayu.
Teuku Nyak Sawang mendapuk dirinya sebagai Zelfbestuur Landschappen Pulau Kayu-Blangpidie setelah menandatangani korte verklaring pada tanggal 9 Maret 1874 dan dikukuhkan pada tanggal 27 Juli 1874. Setelah kematian Teuku Nyak Sawang, uleebalang Pulau Kayu dijabat oleh anaknya; Teuku Raja Cut.
Hubungan antara uleebalang Blangpidie dengan uleebalang Pulau Kayu bermula dari Teuku Nyak Seh yang menikahi Nyak Buleun, cucu tertua dari Tok Gam, pemimpin Pulau Kayu. Teuku Nyak Seh kemudian menjadi uleebalang Pulau Kayu. Ia kemudian digantikan oleh putranya yaitu Teuku Nyak Husein. Karena tidak memiliki keturunan laki-laki, kepemimpinan Pulau Kayu kemudian diambil alih oleh putra Siti Akma atau Cut Bungong binti Teuku Nyak Seh dengan Teuku Nyak Bentara Blangpidie. Dikarenakan Teuku Bentara Nyak Abbas telah memimpin Blangpidie, Pulau Kayu akhirnya diserahkan kepada adiknya yaitu Teuku Nyak Sawang gelar Raja Muda Blangpidie. Pulau Kayu merupakan pelabuhan satu-satunya Blangpidie yang bersebelahan langsung dengan Bandar Susoh.
Saat Teuku Ben Mahmud menunjukkan sikap perlawanan terhadap Belanda pada saat mereka memasuki Aceh pada tahun 1873, Teuku Nyak Sawang bertindak atas nama pemangku uleebalang Blangpidie menandatangani Korte Verklaring dengan Belanda pada tahun 1874 di saat kunjungan Divisi Laut Belanda ke Pantai Barat Aceh yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten. Setelah kematian Teuku Nyak Sawang, Teuku Ben Mahmud menikah dengan janda Teuku Nyak Sawang bernama Cut Meurah binti Teuku Pang Chik, uleebalang cut Kuta Tuha.
Teuku Ben Mahmud memiliki empat orang istri di Aceh yaitu Cut Meurah, Cut Halimah Mata Ie, Cut Gadih dan Cut Linggam. Putra pertamanya dengan Cut Meurah (istri pertama Teuku Ben Mahmud) lahir pada tahun 1884 dan diberi nama Teuku Banta Sulaiman, putra mahkota Blangpidie. Saat Teuku Banta Sulaiman menggantikan Teuku Ben Mahmud menjadi Raja Blangpidie. Uleebalang cut Kuta Tuha dijabat oleh adik kandungnya yaitu Teuku Mamat (Teuku Muhammad), putra kedua Teuku Ben Mahmud dengan Cut Meurah.
Pada tahun 1882, Teuku Ben Mahmud ditunjuk oleh Sultan Muhammad Daud Syah sebagai uleebalang Blangpidie dengan gelar Teuku Bentara Blang Mahmud Setia Raja. Namun, Belanda baru mengakuinya setelah ia turun gunung pada tahun 1908. Meskipun demikian, Teuku Ben Mahmud menolak menjadi Zelfbestuurder van Blangpidie. Jabatan itu ia serahkan kepada putranya; Teuku Banta Sulaiman. Adapun Teuku Umar bin Teuku Raja Cut bin Raja Muda Nyak Sawang menjadi uleebalang cut Pulau Kayu dan Teuku Muhammad Daud bin Teuku Raja Cut menjadi uleebalang cut Guhang dengan gaji 25 Gulden. Gaji ini lebih tinggi daripada gaji uleebalang cut lainnya di Pantai Barat Selatan Aceh
Keluarga mendiang Teuku Nyak Sawang pernah mengajukan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar negeri Pulau Kayu menjadi negeri otonom yang terpisah dari Blangpidie. Pada tanggal 12 Oktober 1880 dibuatlah sebuah pernyataan bahwa negeri Pulau Kayu akan dipisahkan dari Blangpidie, pernyataan tersebut disetujui oleh Belanda dan diratifikasi ke dalam Akta Nomor 24 Tanggal 26 Maret 1881. Kemudian berlanjut pada masa Teuku Raja Cut yang dideklarasi pada tanggal 8 November 1900 dan Akta pengukuhan tanggal 22 April 1901 yang disetujui dan diratifikasi dalam Akta Nomor 10 Tanggal 15 Juni 1901.
Namun akta persetujuan dan pengesahan tersebut tidak jadi diterbitkan karena Teuku Nyak Cut (pemangku dari Teuku Umar bin Teuku Raja Cut) meninggal dunia, sehingga wilayah Pulau Kayu secara bertahap kembali menjadi bagian dari Blangpidie dan seterusnya keturunan Teuku Ben Mahmud menjadi penguasa Blangpidie dan Pulau Kayu.[6]
Kehidupan pribadi
Teuku Ben Mahmud merupakan putra dari Teuku Ben Abbas, uleebalang Blangpidie, dengan Cut Meuh, keturunan uleebalang Lamno. Teuku Ben Abbas adalah putra Teuku Ben Agam yang berasal dari Mukim Gampong Lhang Tijue, Pidie dan merupakan keturunan dari garis keluarga yang ditelusuri hingga Tok Lampoh Deue, seorang pemimpin koloni yang berasal dari Lampeudue, Pidie.
Teuku Ben Mahmud menikah beberapa kali. Pernikahan pertamanya dengan Cut Meurah dikaruniai lima orang anak, yaitu Teuku Banta Sulaiman, Cut Manih, Cut Asiah (istri Habib Mustafa), Teuku Muhammad, dan Teuku Pakeh. Pernikahan keduanya dengan Cut Halimah (Cut Mata Ie) menghasilkan dua orang anak, yaitu Teuku Rayeuk dan Teuku Umar. Pernikahan ketiganya dengan Cut Gadih (Nyak Fatimah), putri Teungku Batee Tunggai (Teungku Chik di Rundeng) dari Meukek, tidak dikaruniai keturunan. Dari pernikahan keempatnya dengan Cut Linggam, lahir Teuku Banta Karim, Cut Mutia dan Cut Cahya. Terakhir diketahui selama pengasingannya di Halmahera, Teuku Ben Mahmud juga menikah dengan wanita lokal bernama Asiah, dan menghasilkan seorang putri bernama Kalimah. Setelah Asiah meninggal dunia, ia menikah lagi dengan janda bernama Saidah, tapi tidak dikaruniai keturunan.
Garis uleebalang Blangpidie kemudian diteruskan melalui putra sulungnya, Teuku Banta Sulaiman, yang menikah tiga kali. Dari perkawinannya dengan Si Manih lahir dua orang anak, yaitu Teuku Sabi dan Cut Intan. Adapun perkawinannya dengan Si Kaoy serta Intan Suadat tidak menghasilkan keturunan.[1]
Perjuangan Melawan Kolonialisme
Sejak Belanda menyatakan perang kepada Aceh pada 26 Maret 1873, Teuku Ben Mahmud terus menunjukkan sikap perlawanan menentang keberadaan Belanda di Aceh. Teuku Ben sejak muda selalu mendukung dan membantu upaya perlawanan terhadap Belanda. Bahkan saat remaja, ia secara tegas juga tidak mengakui kekuasaan Belanda di Aceh serta menolak bekerjasama dengan Belanda.[7]
Ia dikenal sebagai panglima yang menolak keras Korte Verklaring, sebuah perjanjian kolonial, serta menolak jabatan Zelfbestuurder (penguasa lokal di bawah Belanda). Penolakannya menjadi pernyataan perang terbuka terhadap kolonialisme. dan Letnan H. Colijn menyebut bahwa pada periode 1899–1908, Teuku Ben Mahmus memimpin perang gerilya paling strategis dan masif di wilayah-wilayah seperti Trumon, Kluet, Tapaktuan, Meukek, Labuhan Haji, Manggeng, Tangan-Tangan, Blangpidie, Kuala Batee, Tripa dan Seunagan. Bahkan pergerakannya menjangkau Dataran Tinggi Gayo, Tanah Alas, hingga Tanah Batak.
Pasukannya dijuluki "pasukan klewang", dan taktiknya oleh Belanda disebut sebagai "serangan bayangan". Selama 1899–1908, Belanda kehilangan 760 pucuk senjata api dan meriam dalam serangan-serangannya. Dalam laporan militer kolonial, ia disebut sebagai "gerilyawan paling berbahaya di pantai barat, tak dapat dilacak, tak dapat didamaikan".[2]
Pada tahun 1895, Teuku Ben Mahmud menyerang Teuku Larat uleebalang Tapaktuan karena dianggap telah bekerjasama dengan Belanda. Dalam penyerangan itu ditawan juga puteri Teuku Larat yang bernama Cut Intan Suadat, yang kemudian dinikahkan dengan Teuku Banta Sulaiman putra Teuku Ben Mahmud. Penyerangan itu dikenal dengan nama Perang Jambo Awe, dikarenakan penyerangan itu dipimpin panglima Teuku Ben Mahmud bernama Teungku Jambo Awe yang berasal dari Seunagan.
Pada Tahun 1900, pasukan marsose Belanda berhasil memasuki Kota Blangpidie setelah memindahkan posisinya dari Susoh. Belanda membangun tangsi (bivak) marsose dengan kekuatan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK). Setelah Belanda merebut wilayah Blangpidie pada tahun 1900, Teuku Ben Mahmud melakukan gerilya dari hulu Tripa hingga hulu Singkil.Teuku Ben Mahmud memimpin gerilya di barat selatan Aceh dan menghadapi marsose Belanda dibantu juga oleh pasukan khusus Kesultanan Aceh dari Gayo dan Alas.
Pada periode 1900–1907, Teuku Ben Mahmud memimpin perlawanan gerilya di wilayah Blangpidie, Gayo Lues, dan Tapaktuan dengan strategi militer yang dikenal sangat efektif. Ia merekrut prajurit dari kalangan masyarakat Gayo dan Alas yang memahami medan pegunungan dan hutan rimba. Pasukannya memanfaatkan rawa, gua, dan tebing untuk membangun pertahanan alami (disebut kurok-kurok), serta melancarkan serangan mendadak pada malam hari.
Salah satu serangan besar terjadi pada tanggal 7 April 1901 di Blangpidie, saat sekitar 500 pejuang yang dipimpinnya mengepung bivak Belanda. Serangan ini membuat pasukan kolonial di bawah Letnan Helb kocar kacir.[8] Pasukan yang membantu Teuku Ben Mahmud terdiri atas beberapa orang Gayo yang terkenal dan gagah berani antara lain Ang Bali dari Cane Toa, Raja Chik Padang, dan Raja Chik Pasir.
Pada tahun 1905, pasukan Teuku Ben Mahmud dengan kekuatan sekitar 500 pejuang menyerbu markas Belanda di Tapaktuan. Dalam pertempuran tersebut, Teuku Ben Mahmud dibantu oleh panglima-panglima yang gigih dan tangguh antara lain Haji Yahya dari Aluepaku, Sawang, Said Abdurrahman dari Pasie Raja dan Teuku Cut Ali dari Trumon. Serangan tersebut menyebabkan kerugian besar di pihak Belanda, termasuk tewasnya beberapa perwira dan sersan. Taktik yang digunakan meliputi penyerbuan klewang, penggelindingan batu dari ketinggian, serta pembakaran bivak lawan.[9]
Di tahun yang sama, pasukan Teuku Ben yang dipimpin Tengku Idris dari Nagan Raya juga menyerang rombongan kontrolil Belanda yang sedang mengutip blestenk (pajak rakyat) di Kuta Buloh, Meukek. Penyerangan ini menewaskan beberapa serdadu Belanda. Aksi tersebut membuat Belanda melakukan sweeping secara ketat, sehingga membuat Tengku Idris dan beberapa pasukan Teuku Ben lainnya tertangkap dan dibuang ke Ternate, Maluku Utara. Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia 1978-1988 dr. H. Abdul Gafur bin H. Abdul Hamid Tengku Idris, adalah cucu Tengku Idris, panglima Teuku Ben Mahmud.
Selain itu, Teuku Ben Mahmud juga menjalin hubungan strategis dengan pemimpin perlawanan rakyat Batak, Sisingamangaraja XII, yang tengah memimpin gerilya melawan Belanda di wilayah Tapanuli. Teuku Ben Mahmud ini tidak hanya memberikan dukungan moral dan politik, tetapi juga mengirimkan bantuan militer dari Aceh ke wilayah Dairi dan sekitar perbatasan Singkil–Pakpak Bharat, untuk memperkuat barisan pejuang Batak.
Pada awal tahun 1907, Teuku Ben Mahmud bersama sekitar 150 pejuang Gayo dan Alas berangkat dari Tapaktuan menelusuri Sungai Cenendang hingga Simsim, wilayah Pakpak Bharat, untuk mendukung gerakan Sisingamangaraja XII. Aliansi ini merupakan lanjutan dari hubungan persahabatan lama, sejak Si Singamangaraja XII berlatih strategi perang di Keumala, Pidie, bersama Tuwanku Hasyim Banta Muda. Pasukan Aceh yang dipimpin Teuku Ben Mahmud bergabung menjaga markas gerilya, melatih laskar Batak, menyerang bivak Belanda, serta menghancurkan fasilitas kolonial di sekitar Sungai Cenendang dan Simsim.
Kolaborasi ini menjadi simbol persatuan perlawanan lintas wilayah dan etnis. Namun, pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran di hulu Sungai Sibulbulon. Pasukan Aceh tetap mendampingi hingga akhir dan sebagian berhasil menyelamatkan anggota keluarganya.
Langkah ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak bersifat sektoral, melainkan melibatkan kerja sama lintas wilayah antara Aceh dan Tapanuli. Kolaborasi tersebut juga melahirkan jaringan logistik dan komunikasi antara dua wilayah yang sama-sama sedang berada dalam tekanan militer dari Hindia Belanda. Sejumlah arsip Belanda dan sumber lokal mencatat bahwa pasukan Aceh berada di kawasan Cenendang dan turut serta dalam aksi pengepungan atau pelolosan pasukan Batak dari kejaran kolonial.
Kerja sama ini dipandang sebagai simbol persaudaraan perjuangan antaretnis dan antarkerajaan di Nusantara, yang memperkuat semangat perlawanan nasional sebelum lahirnya organisasi kebangsaan modern.[10]
Belanda menghadapi kesulitan besar melacak keberadaan pasukan Teuku Ben Mahmud, karena ia kerap berpindah ke wilayah Gayo Lues, lalu muncul kembali secara tiba-tiba untuk menyerang. Ia dikenal sebagai ahli strategi gerilya yang menghindari konfrontasi terbuka, tetapi konsisten menimbulkan kerugian besar di pihak musuh.
Pada Juni 1908, Belanda berhasil menyandera beberapa anggota keluarga dan pasukan Teuku Ben Mahmud termasuk istri, anak dan cucu Teuku Ben Mahmud. Atas bujukan Kapitein W.B.J.A. Scheepens, Teuku Ben Mahmud dan 160 orang pasukannya pada Juli 1908 akhirnya terpaksa turun gunung dengan membawa 17 pucuk senjata dan menghentikan gerilyanya dengan syarat Belanda harus melepaskan sandera dan mengembalikan pejuang Aceh yang mereka buang ke luar Aceh. Namun, sejumlah pasukan bekas anak buahnya tetap melanjutkan perlawanan secara sporadis setelah itu.
Meskipun telah turun gunung, Teuku Ben Mahmud tetap diawasi oleh Belanda. Ia menolak tawaran jabatan dari Belanda dan menetap di Blangpidie, membina generasi muda secara spiritual dan kultural. Meski tidak lagi berperang, ia menjadi simbol moral para mantan pejuang.[2] Secara diam-diam Teuku Ben Mahmud masih terus menyemangati pejuang Aceh bahkan sempat memerintahkan untuk membunuh seorang mata-mata Belanda bernama Keurani Hamid. Karena dianggap masih memiliki pengaruh terhadap perlawanan melawan Belanda, Teuku Ben Mahmud dan beberapa keluarganya akhirnya dibuang ke Halmahera, Maluku menggunakan kapal Van Doorn antara tahun 1911-1914.[11]
Meskipun Teuku Ben Mahmud diasingkan, namun perjuangannya tetap diteruskan oleh putranya dengan Cut Linggam yaitu Teuku Banta Karim dan mantan panglima Teuku Ben Mahmud: Cut Ali dan pejuang-pejuang lain. Begitupun peristiwa 11 September 1926 atau penyerangan tangsi Belanda di Blangpidie oleh pasukan Teungku Peukan juga dilatarbelakangi atau dipengaruhi oleh semangat perjuangan Teuku Ben Mahmud.
Putra sulung Teuku Ben Mahmud, Teuku Banta Sulaiman juga diasingkan oleh Belanda dan dibuang ke Peureulak, Aceh Timur antara tahun 1916-1919 lalu dipindahkan ke Kutaraja hingga masuknya Jepang ke Aceh baru ia bisa kembali pulang ke Blangpidie. Saudaranya, Teuku Karim bin Teuku Ben Mahmud turut melakukan perlawanan melawan Belanda hingga masuknya Jepang pada tahun 1942
Sepeninggal Teuku Banta Sulaiman, pada 30 Oktober 1917 kepemimpinan kenegerian Blangpidie selanjutnya diambil alih oleh adik tirinya, Teuku Rayeuk, putra Teuku Ben Mahmud dengan Cut Mata Ie, karena Teuku Sabi bin Teuku Banta Sulaiman masih kecil.[12] Baru pada 11 Oktober 1929, Zelfbestuurder van Blangpidie dijabat oleh Teuku Sabi hingga terjadinya revolusi sosial pasca kemerdekaan Indonesia. Teuku Sabi menikah dengan Cut Ti Aisyah, putri Datuk Nyak Raja (Zelfbestuurder van Susoh). Teuku Sabi tidak memiliki anak laki-laki yang dapat meneruskan kepemimpinannya sebab anak laki-laki satu-satunya bernama Teuku Raja Usman bin Teuku Sabi meninggal saat masih kecil akibat tenggelam di kolam rumah Haji Chek Ahmad yang berdekatan dengan kediaman Teuku Sabi di Keude Siblah.[13] Saat kematian Teuku Raja Usman bin Teuku Sabi terjadi perdebatan terkait hukum samadiah atau tahlilan. Peristiwa ini berujung pada perdebatan antara murid-murid Abu Syekh Mud termasuk Abuya Muda Waly dengan Teungku Sufi Gle Karong.[14]
Pengasingan dan Akhir Hayat
Pada tahun 1911, karena pengaruhnya yang tetap besar dan dugaan perlindungan terhadap jaringan gerilya yang masih aktif, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman internering kepada Teuku Ben Mahmud — yakni pengasingan tanpa pengadilan. Ia dikirim ke wilayah yang sangat jauh dari kampung halamannya yaitu ke Maluku Utara. Ia diangkut menggunakan kapal Van Doorn, tanpa ditemani keluarga.
Di tanah pengasingan, Teuku Ben Mahmud dikenal dengan nama Tengku Rahmat. Meski secara resmi dianggap sebagai tahanan politik, ia justru menjadi pemimpin spiritual dan moral bagi masyarakat lokal. Ia mendirikan semacam lembaga keadilan rakyat, membantu distribusi pangan selama masa-masa sulit, dan memberi bimbingan kepada pemuda-pemudi di wilayah tersebut.
Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Teuku Ben Mahmud ikut berperan membantu rakyat Maluku Utara bertahan dari tekanan dan kekejaman militer Jepang. Ia tidak pernah meninggalkan nilai-nilai perjuangan dan tetap hidup sederhana serta dihormati oleh penduduk setempat.
Teuku Ben Mahmud wafat pada 28 Maret 1974 dalam usia sekitar 114 tahun. Ia dimakamkan di sebuah bukit di Saramaake, Wasile Selatan, Halmahera Timur yang kini dikenal dengan nama Bukit Rahmat. Masyarakat setempat mengenangnya sebagai "Tete Aceh" — sosok tua bijak yang menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Meski jauh dari tanah kelahiran, pengaruhnya tetap hidup dalam memori rakyat yang pernah dibelanya.
Warisan perjuangannya hidup dalam para penerus seperti Teuku Cut Ali, Teuku Angkasah, Panglima Raja Lelo, Teungku Peukan, dan putranya sendiri, Teuku Karim bin Teuku Ben Mahmud. Meski belum diangkat sebagai pahlawan nasional secara resmi, ia tetap menjadi simbol keberanian dan ketulusan perjuangan Aceh.[2]
Penghargaan
Atas pengabdian dan perjuangannya untuk semasa perang Aceh, nama Teuku Ben Mahmud diabadikan sebagai nama jalan di Tapaktuan dan Blangpidie. Nama Teuku Ben Mahmud juga dijadikan sebagai nama yayasan yang mengelola asrama mahasiswa Blangpidie di Banda Aceh. Selain itu, nama Teuku Ben Mahmud juga dijadikan nama Aula Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Barat Daya serta nama Perpustakaan Sekolah Islam Terpadu Insan Madani Susoh.
Penjabat Bupati Aceh Barat Daya, Darmansah memberikan penghargaan kepada Teuku Ben Mahmud sebagai Tokoh dan Pahlawan Perang Aceh asal Aceh Barat Daya.[15] Selain itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia Kabupaten Aceh Barat Daya juga memberikan penghargaan kepada Teuku Ben Mahmud sebagai Tokoh Gerilya dan Pahlawan Perang Aceh.[16] Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk dukungan atas usaha pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Teuku Ben Mahmud[17] yang dilakukan oleh Aceh Culture and Education dan Museum Susoh.[18]
Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menyerahkan penghargaan berupa cenderamata kepada keluarga pahlawan Teuku Ben Mahmud sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan perjuangan Teuku Ben Mahmud. Penyerahan awal dilakukan di Meuligoe Gubernur Aceh di Banda Aceh, kemudian diserahkan kembali kepada keluarga oleh Wakil Bupati Aceh Barat Daya, Zaman Akli, di Pendopo Wakil Bupati Abdya.[19]
Pada 10 November 2025, Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin memberikan Piagam Penghargaan kepada Teuku Ben Mahmud yang diwakili oleh ahli warisnya. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan Teuku Ben Mahmud dalam perjuangan bangsa dan negara. Penyerahan dilakukan secara resmi dalam upacara Hari Pahlawan di halaman Kantor Bupati Aceh Barat Daya, Blangpidie.[20]
Rujukan
- ^ a b c Djamin, Aris Faisal; Nawafil, Rozal (2024). Teuku Bentara Mahmud Setia Radja : pahlawan besar perang Aceh. Banda Aceh: Aceh Culture And Education. hlm. vi. ISBN 978-623-88864-3-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ a b c d Nawafil, Rozal. "Teuku Ben Mahmud: Hidup untuk Bangsa, Mati dalam Sunyi". Diakses tanggal 2025-07-07.
- ^ "Safaruddin Sebut Nama Pahlawan Teungku Peukan & Teuku Ben Mahmud Saat Hening Cipta HUT Ke-80 RI". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-08-19.
- ^ theacehpost.com (2025-04-21). "Teuku Bentara Agam Ditetapkan jadi Pendiri Blangpidie, Situs Makamnya Disiapkan Jadi Cagar Budaya". theacehpost.com. Diakses tanggal 2025-06-27.
- ^ Djamin, Aris Faisal (2021). Susoh; Cahaya Kemilau Peradaban. Banda Aceh: Aceh Culture and Education. hlm. 154. ISBN 9786239809805.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ "Teuku Ben Mahmud dan Perjuangan Melawan Belanda Salah satu tokoh perlawanan terhadap kolonial Belanda,". 123dok.com. Diakses tanggal 2022-10-12.
- ^ Juli, Muhajir (2024-08-09). "Teuku Bentara Mahmud Layak Jadi Pahlawan Nasional - Komparatif.ID" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-09.
- ^ Nawafil, Rozal. "Teuku Ben Mahmud dalam Pusaran Perlawanan Kolonial; Catatan Korps Marsose tentang Bentang Alam Tapaktuan-Aceh Selatan". Diakses tanggal 2025-04-21.
- ^ "TP2GK Luncur Buku Teuku Ben Mahmud, Saat Pameran Sejarah di Museum Susoh Bertepatan Hari Pahlawan". Serambinews.com. Diakses tanggal 2024-11-10.
- ^ Nawafil, Rozal (2025-06-27). "Perjuangan Tanpa Batas: Aksi Heroik Teuku Ben Mahmud Membantu Sisingamangaraja XII". Inisiatif. Diakses tanggal 2025-06-27.
- ^ "Makam Teuku Ben Mahmud ditemukan di Halmahera". Diakses tanggal 2024-06-02.
- ^ "Action Bersihkan Makam Uleebalang Blangpidie ke-X, Teuku Rayeuk". Diakses tanggal 2025-09-01.
- ^ "Peristiwa 11 September 1926; Perlawanan Teungku Peukan terhadap Belanda di Aceh (Bagian I)". Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (dalam bahasa American English). 2015-02-06. Diakses tanggal 2022-10-12.
- ^ Rozal Nawafil, Aris Faisal Djamin dan (2024). Teuku Bentara Mahmud Setia Radja : pahlawan besar perang Aceh. Banda Aceh: Aceh Culture and Education. hlm. 405. ISBN 978-623-88864-3-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ koalisi.co (2024-06-04). "Teuku Ben Mahmud Dianugerahi Penghargaan "Tokoh Gerilya dan Pahlawan Perang Aceh"". Koalisi.co. Diakses tanggal 2024-06-19.
- ^ "Action Terima Penghargaan Teuku Ben Mahmud dari Kemenag Abdya". Diakses tanggal 2024-06-02.
- ^ "ACTION Ajukan Teuku Ben Mahmud Sebagai Pahlawan Nasional Asal Abdya". Diakses tanggal 2024-06-02.
- ^ "ACTION Ajukan Teuku Ben Mahmud Sebagai Pahlawan Nasional Asal Abdya". Serambinews.com. Diakses tanggal 2024-06-22.
- ^ "Wabup Abdya Serahkan Bungong Jaroe Penghargaan Gubernur Aceh kepada Ahli Waris Teuku Ben Mahmud". Diakses tanggal 2026-06-01.
- ^ AcehEkspres.com (2025-11-10). "Empat Tokoh Pejuang Daerah Dapat Penghargaan dari Pemkab Abdya di Hari Pahlawan". AcehEkspres.com. Diakses tanggal 2026-06-01.
Lihat pula
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.



