SeaBank

PT Bank Seabank Indonesia
Nama sebelumnya
PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (1991-2021)
Jenis perusahaan
Perusahaan tertutup, anak usaha
IndustriJasa keuangan
DidirikanOktober 4, 1991; 34 tahun lalu (1991-10-04)
Kantor pusatGama Tower, Jl. H. R. Rasuna Said No. 2, Karet Kuningan, Setiabudi
Jakarta, Indonesia
Tokoh kunci
Sasmaya Tuhuleley
(Direktur Utama)
Dono Boestami
(Komisaris Utama)
Produk
PendapatanKenaikanRp 8,18 triliun (2025)[1]
KenaikanRp 678 miliar (2025)[1]
Total asetKenaikanRp 44,43 triliun (2025)[1]
Total ekuitasKenaikanRp 7,12 triliun (2025)[1]
PemilikSea Limited (100%)
Karyawan
1.132 (2025)[1]
Situs webwww.seabank.co.id

PT Bank Seabank Indonesia (sebelumnya bernama PT Bank Kesejahteraan Ekonomi)[2][3] atau lebih dikenal dengan nama SeaBank adalah sebuah bank swasta devisa di Indonesia. SeaBank adalah lembaga keuangan digital milik Sea Limited/Sea Group, perusahaan induk dari situs e-commerce Shopee[4] dan penerbit game online Garena.[5]

Sejarah

Bank Kesejahteraan

Kantor pusat Seabank Indonesia, saat masih bernama Bank Kesejahteraan

PT Bank Seabank Indonesia didirikan sebagai PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) pada 4 Oktober 1991. Bank Kesejahteraan mulai beroperasi sebagai bank umum pada tanggal 27 Februari 1992.[6] Pendirian BKE dirintis oleh Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Fokus bisnis bank ini adalah pembiayaan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui Koperasi Primer Pegawai Negeri (KP-RI) dengan pola executing dalam memberi solusi finansial bagi pegawai, terutama PNS, sekaligus memberdayakan koperasi. Sebagai pemegang saham utama Bank Kesejahteraan adalah Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKP-RI), koperasi yang didirikan demi mendukung perekonomian para aparatur sipil negara. Lahirnya bank ini didasari oleh pengalaman IKP-RI (d/h IKPN) yang sebelumnya sudah mengelola Lembaga Usaha Perkreditan (Lemusdit). Lemusdit memiliki keterbatasan karena tidak bisa menghimpun dana dari masyarakat, di saat permintaan kredit dari anggota IKPN semakin besar. Dengan adanya kebijakan baru perbankan lewat Pakto 88, maka diputuskanlah untuk mengubah lembaga perkreditan itu menjadi bank.[7]

Meskipun memiliki cakupan bisnis yang terbilang kecil, Bank Kesejahteraan mampu bertahan dari berbagai tantangan, termasuk krisis moneter maupun ketika mulai diterapkannya kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia. Namun, demi bertahan itu juga, pemegang sahamnya pun sempat berubah, meskipun tetap didominasi oleh IKP-RI. Mulanya pemegang saham lain meliputi sejumlah dana pensiun milik perusahaan-perusahaan BUMN, yang kemudian berganti menjadi Recapital Group (kongsi Sandiaga Uno dan Rosan Roeslani) mulai tahun 2005.[8] Meskipun Recapital juga sempat menguasai dua bank lain (BTPN dan Bank Pundi), namun Bank Kesejahteraan tidak pernah dimerger karena grup ini tidak memegang saham mayoritas.[9] Selanjutnya, pada Januari 2015, perusahaan efek PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk ikut masuk dalam struktur kepemilikan bank ini melalui transaksi senilai Rp 60 miliar.[10]

Sejak tahun 2015, Bank Kesejahteraan memiliki Sentra Kredit Konsumer (SKK), yaitu semacam credit factory untuk pengembangan produk yang didukung infrastruktur teknologi informasi dengan menggandeng Telkom Indonesia melalui e-Koperasi berupa PPOB Payment. Lewat SKK, anggota koperasi bisa bertransaksi pembayaran listrik, telepon, PDAM, hingga produk mutakhir seperti ATM, EDC (electronic data capture), dan bancassurance (asuransi mikro). Mulai Agustus 2016, Bank Kesejahteraan menyederhanakan namanya menjadi Bank BKE saja. Setelah rebranding, BKE berencana untuk go public dan menerbitkan obligasi demi memperkuat permodalannya. Mereka juga masih ingin memperluas cakupannya ke koperasi anggota IKP-RI, karena dari 11.000 anggota aktif, baru 1.540 koperasi yang sudah berelasi dengan BKE.[11]

Sebelum berganti nama dan menjadi bank digital, BKE terakhir memiliki kantor layanan sebanyak 12 kantor yang terdiri dari 8 kantor cabang dan 4 kantor cabang pembantu di beberapa kota besar Indonesia, 22 unit ATM plus layanan SMS Banker bagi seluruh nasabah.[6] Adapun aset yang dihimpun mencapai Rp 3,46 triliun dan karyawannya berjumlah 346 orang.[1]

Bank Seabank Indonesia

Memasuki tahun 2019, BKE mengalami kondisi keuangan yang payah dengan mencatatkan rugi hingga Rp 136,5 miliar, plus kredit macet gross yang naik menjadi 7,63%. Penurunan kinerja ini terus terjadi di tahun 2020. Kondisi keuangan cekak tersebut memaksa mayoritas pemegang saham bank ini melepaskan seluruh sahamnya. Terkhusus bagi IKP-RI, mereka juga dibatasi oleh kebijakan OJK yang membatasi kepemilikan lembaga non-keuangan di bank menjadi hanya 30%.[12] Mulai tahun 2018, masuklah PT Danadipa Artha Indonesia (milik Setiawan Ichlas) sebagai pemegang saham utama di BKE. Dari awalnya hanya membeli 21% saham IKP-RI, di bulan Desember 2019, mereka mengakuisisi kepemilikan mayoritas pemegang saham lama (IKP-RI, Recapital dan Reliance) di BKE, sehingga menguasai 92,63% saham.[13][14]

Rupanya, aksi Danadipa menjadi pemegang saham mayoritas di BKE tersebut disokong oleh Turbo Cash (atau SeaMoney), anak usaha Sea Group.[15] Setelah itu, Turbo Cash membeli 82,19% saham Danadipa di bulan Januari dan November 2020, yang disusul pembelian 66,66% saham PT Koin Investama Nusantara (KIN) di bulan Juni 2020. PT Danadipa dan PT KIN-lah yang selanjutnya bertahan sebagai dua pemegang saham BKE, dengan masing-masing menguasai 95% dan 5% (kini 85% dan 15%). Proses tersebut membuat kepemilikan BKE sejak Januari 2020 resmi jatuh kepada Sea Group.[4] Pasca-akuisisi oleh Sea Group, mulai 10 Februari 2021, PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE) mengganti nama dan logonya menjadi PT Bank Seabank Indonesia (disingkat SeaBank).[16]

Aksi korporasi Sea Group tersebut mengikuti gelombang perbankan digital yang melanda Indonesia pada awal 2020-an, saat pandemi COVID-19. Adapun Sea Group sebelumnya telah mendapatkan lisensi untuk bank digital di Singapura pada Desember 2020.[17] Tidak lama setelah menyandang nama baru, aplikasi SeaBank diluncurkan ke masyarakat,[18] tanpa banyak gembar-gembor seperti bank digital yang muncul selanjutnya. Dengan mengusung integrasi bersama ekosistem Sea Group di Indonesia, khususnya aplikasi Shopee lewat kemudahan penggunanya membuka rekening SeaBank plus berbagai macam promo menarik,[19] SeaBank Indonesia mencatatkan pertumbuhan pesat. Hal ini dibuktikan dari aset perusahaan yang naik tajam dari Rp 3,46 triliun di tahun 2020 menjadi Rp 11 triliun di tahun 2021.[18]

Tahun selanjutnya (2022), SeaBank mulai mencatatkan untung dari sebelumnya merugi,[20] ditambah meraih status bank devisa sebagai yang pertama dari bank bermodel bisnis sejenis. Lalu, di tanggal 4 April 2023, SeaBank berhasil mendapatkan sertifikasi ISO 27001, yaitu standar internasional tentang prinsip-prinsip utama keamanan informasi.[21] Fitur-fitur baru pun terus dihadirkan seperti deposito, bill payment, chatbot, buka rekening tanpa aplikasi SeaBank, setor-tarik tunai lewat Indomaret, kredit SeaBank Pinjam, dll.[1] Kini SeaBank merupakan bank digital dengan aset terbesar di Indonesia, dengan pada pertengahan 2025 mencatatkan aset Rp 37,03 triliun.[22] Di usianya yang ke-5, nasabah bank ini telah mencapai 30 juta, dengan jumlah transaksi yang dilayani menembus 13 juta/hari dan rata-rata dana yang berputar sebesar Rp 6 triliun/hari.[23]

Kantor

Bank ini berpusat di Jakarta, dan memiliki 8 kantor cabang yang tersebar di Jabodetabek (Gama Tower, Kelapa Gading dan Bintaro Jaya), Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dan Banjarmasin.

Manajemen

  • Komisaris Utama/Independen: Dono Boestami
  • Komisaris Independen: Joice F. Rosandi
  • Komisaris: Hans K. Saleh
  • Komisaris: Tianyi Wang
  • Direktur Utama: Sasmaya Tuhuleley
  • Wakil Direktur Utama: Junedy Liu
  • Direktur Kepatuhan: Anti Deisnasari
  • Direktur: Evangelina Sintawati
  • Direktur: Lindawati Octaviani
  • Direktur: Michael Salam

Referensi

  1. ^ a b c d e f g LapTahunan Seabank 2025
  2. ^ Citradi, Tirta (2021-02-16). "Gojek-Tokopedia Merger, Nasib OVO 'Si Anak Kandung' Piye?". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2021-09-09.
  3. ^ "Dipegang Sea Group, Bank Kesejahteraan Ekonomi Kini Jadi SeaBank". id.techinasia.com. 23 Februari 2021. {{cite web}}: Kutipan memiliki paramater tidak diketahui : |1=
  4. ^ a b Pramisti, Nurul Qomariyah. "Mengapa Induk Shopee Mau Membeli Bank BKE yang Kecil dan Rugi?". tirto.id. Diakses tanggal 2021-10-14.
  5. ^ Sandria, tahir saleh & Ferry (2021-03-31). "Waspada Bank Kakap RI! Ada 'Kuda Hitam' Baru dari Singapura". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2021-10-14.
  6. ^ a b Laporan Tahunan SeaBank 2020 (PDF).{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Buku Ajar Ekonomi Koperasi Evaluasi Keberhasilan Koperasi Dilihat Dari Beberapa Aspek
  8. ^ Sekilas Bank Kesejahteraan
  9. ^ Recapital Bantah Kuasai Saham Bank Kesejahteraan
  10. ^ Reliance Securities beli 20% Bank Kesejahteraan
  11. ^ Re-Branding, Bank Kesejahteraan Ekonomi Ubah Nama Dan Logo
  12. ^ Nasib Baik Bank-Bank Eks-Milik Yayasan & Koperasi TNI/PNS
  13. ^ Danadipa Ambil Alih Kendali Bank BKE
  14. ^ Danadipa Artha Indonesia akan menambah modal Bank BKE lewat private placement
  15. ^ Dicaplok Shopee, Bank BKE Ganti Nama Jadi Seabank Indonesia
  16. ^ Sitorus, Ropesta (2021-02-22). Alfi, Azizah Nur (ed.). "Resmi Diakuisisi Sea Group, Bank BKE Kini Berganti Nama Jadi Seabank". Bisnis.com. Diakses tanggal 2021-11-18.
  17. ^ "Indonesian banking regulator says Sea Group's Shopee acquires Bank BKE". thejakartapost.com. 18 Februari 2021. {{cite web}}: Kutipan memiliki paramater tidak diketahui : |1=
  18. ^ a b LapTahunan SeaBank 2021
  19. ^ Ramadani, Alisha (2021-11-29). "Apa Itu SeaBank : Fitur, Bunga & Keuntungan". Sakudigital. Diakses tanggal 2022-06-17.
  20. ^ Perjalanan SeaBank
  21. ^ Keberhasilan Implementasikan GRC Terintegrasi Bawa SeaBank Raih Kinerja Mumpuni
  22. ^ Top 10 Bank Digital Terbesar RI: Seabank Kokoh Teratas, Aset Superbank Melonjak
  23. ^ SeaBank Kantongi 30 Juta Nasabah dalam 5 Tahun, Transaksi Tembus 13 Juta per Hari

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.