Seminari

Seminari (disebut juga sekolah teologi, perguruan tinggi teologi, atau sekolah keilahian), adalah lembaga pendidikan yang mendidik para siswa (yang terkadang di…

Seminari
St Stephen's House, Oxford
Seminari Saint-Sulpice, di Issy-les-Moulineaux, Prancis

Seminari (disebut juga sekolah teologi, perguruan tinggi teologi, atau sekolah keilahian), adalah lembaga pendidikan yang mendidik para siswa (yang terkadang disebut seminaris) dalam bidang kitab suci dan teologi, umumnya untuk mempersiapkan mereka menerima penahbisan guna melayani sebagai rohaniwan, berkecimpung dalam dunia akademis, atau yang paling umum menjalankan pelayanan Kristen.[1][2] Seminari biasanya merupakan institusi mandiri yang lebih berfokus pada pelatihan pelayanan atau pelatihan profesional, sedangkan sekolah teologi sering kali menjadi bagian dari institusi pendidikan yang lebih besar dan cenderung lebih berorientasi pada aspek akademis serta penelitian[3][4], meskipun istilah-istilah tersebut dapat digunakan secara cukup fleksibel.

Kata bahasa Inggris tersebut diambil dari Latin: seminarium,[5] diterjemahkan sebagai 'lahan persemaian', yang artinya benih, sebuah gambaran yang diambil dari dokumen Konsili Trente Cum adolescentium aetas, 'Sejak masa remaja' yang menyerukan pembentukan seminari modern pertama.[6] Maka, Seminari berarti tempat penyemaian benih. Artinya, benih panggilan rohani yang ada pada seseorang, disemaikan dengan pendidikan di Seminari. Seseorang yang menempuh pendidikan di Seminari disebut Seminaris.[7]

Di Amerika Serikat, istilah tersebut saat ini digunakan untuk institusi teologi tingkat pascasarjana, namun secara historis istilah itu digunakan untuk sekolah menengah.

Sejarah

Pendirian seminari pada masa modern merupakan hasil dari reformasi Katolik pada masa Kontra-Reformasi setelah Konsili Trente.[8] Seminari-seminari Tridentin ini sangat menekankan pembinaan rohani dan disiplin pribadi, serta studi pertama-tama filsafat sebagai landasan, dan kemudian teologi sebagai puncak penyempurnaannya.[9] Seminari Katolik tertua di Amerika Serikat adalah St. Mary's Seminary and University di Baltimore, yang didirikan pada tahun 1791.[10] Di Amerika Serikat, institusi-institusi Protestan juga secara luas mengadopsi istilah 'seminari' untuk sekolah pascasarjana independen (yang terpisah dari universitas) guna melatih para pendeta mereka. Seminari Protestan tertua semacam itu di Amerika Serikat didirikan di Andover, Massachusetts, pada tahun 1807 dengan nama Andover Theological Seminary dan berafiliasi dengan Gereja Kongregasionalis. Setelah dua kali merger dan beberapa kali perpindahan lokasi, Andover kini menjadi bagian dari Yale Divinity School di New Haven, Connecticut.

Katolik

Pedoman umum bagi pembinaan seminari ditetapkan dalam dokumen-dokumen yang berlaku per tahun 2016, yaitu *Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis*, *Pastores dabo vobis* (1992), dan Kitab Hukum Kanonik. Seminari berada di bawah pengawasan konferensi para uskup regional. Di Amerika Serikat, dokumen pedomannya adalah *Program of Priestly Formation: in the United States of America* (Edisi ke-6), yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Amerika Serikat pada tahun 2022.

Seminari dalam Gereja Katolik terbagi menjadi seminari menengah untuk remaja dan seminari tinggi untuk orang dewasa; seminari tinggi ini mencakup seminari tingkat perguruan tinggi (yang terkadang juga disebut seminari menengah) bagi mahasiswa sarjana serta seminari pascasarjana bagi mereka yang telah memiliki gelar sarjana. Terdapat pula seminari bagi orang dewasa yang sudah lama menyelesaikan pendidikan formal—seperti Sacred Heart Seminary and School of Theology di Wisconsin—serta seminari untuk tujuan khusus lainnya.

Semua seminari dikelola baik oleh tarekat religius maupun oleh keuskupan atau struktur serupa lainnya. Sering kali, sebuah seminari mendidik calon imam dari tarekat atau keuskupan tempat seminari itu bernaung, sekaligus calon imam dari tarekat atau keuskupan lain yang memilih seminari tersebut bagi para calon imam mereka. Sebagai contoh, Saint John's Seminary di Boston, Massachusetts, mendidik calon imam untuk berbagai keuskupan lain di wilayah New England yang merupakan keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Boston. Bagaimanapun juga, seseorang yang hendak masuk seminari untuk menjadi imam harus mendapatkan sponsor dari keuskupan atau tarekat religius.

Sering kali, sebuah keuskupan berafiliasi dengan perguruan tinggi atau universitas Katolik yang lebih besar; dengan demikian, perguruan tinggi tersebut beserta para pengajarnya menyediakan pendidikan umum di bidang sejarah atau teologi, sementara seminari berfokus pada topik-topik yang secara khusus relevan dengan kebutuhan calon imam—seperti pelatihan hukum kanonik, sakramen, dan homiletika atau topik yang spesifik bagi tarekat religius maupun keuskupan tertentu. Sebagai contoh, Theological College di Washington, D.C., merupakan bagian dari The Catholic University of America.

Selain itu, di Roma terdapat beberapa seminari yang mendidik seminaris maupun imam dan uskup yang telah ditahbiskan, yang dikelola oleh tarekat religius atau keuskupan dari luar Italia. Banyak negara memiliki seminari kepausan sendiri di Italia, yang biasanya terletak sangat dekat dengan Vatikan. Sebagai contoh, Pontifical North American College, yang melatih para imam dari Amerika Serikat dan wilayah lain, didukung oleh Konferensi Waligereja Amerika Serikat. Lembaga-lembaga ini biasanya memberikan gelar kepada para seminaris dan imam yang menempuh pendidikan lanjutan serta mengambil spesialisasi di bidang-bidang tertentu seperti Kitab Suci, hagiografi, teologi moral, atau Hukum Kanonik, dan berbagai bidang lainnya. Selain gelar sipil, seminari-seminari kepausan ini juga menganugerahkan gelar gerejawi (seperti *Baccalaureate of Sacred Theology*, *Licentiate of Sacred Theology*, dan *Doctorate of Sacred Theology*) yang diakui oleh Takhta Suci. Hanya universitas Katolik tertentu yang dapat menganugerahkan gelar-gelar ini; universitas-universitas tersebut dikenal sebagai universitas gerejawi atau universitas kepausan. Satu-satunya seminari kepausan yang berada di luar Italia adalah Pontifical College Josephinum di Columbus, Ohio.

Sebagaimana digariskan dalam *Ratio*, pembinaan di seminari Katolik mencakup empat komponen atau dimensi utama: manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral. Dimensi manusiawi berfokus pada kemampuan seminaris untuk berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan tata krama, serta merawat diri sendiri (terkait pola makan, frekuensi olahraga, kesehatan, dan sebagainya). Dimensi rohani membantu seminaris agar lebih peka terhadap Allah dan membangun kebiasaan berdoa sepanjang hari; dimensi ini juga menekankan pentingnya sakramen dan liturgi. Dimensi intelektual mencakup kegiatan akademis, yang biasanya dimulai dengan jenjang sarjana (seperti *Bachelor of Arts* atau *Bachelor of Philosophy*) dan berlanjut hingga jenjang yang lebih tinggi, misalnya *Master of Arts in Theology* atau *Master of Divinity*. Dimensi pastoral membantu mengembangkan keakraban dengan pelayanan pastoral dalam berbagai situasi, seperti pelayanan bagi orang sakit, urusan pernikahan, serta kehidupan di paroki.

Bagi para seminaris Katolik, pembinaan di seminari dapat dibagi menjadi empat tahap pembinaan yang berbeda.

  1. Tahap Propaedeutik: seminaris terutama bertumbuh dalam doa dan hubungannya dengan Allah, serta dalam pendalaman Kitab Suci dan ajaran Gereja. Ia juga mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam dimensi manusiawi. Tahap ini berlangsung antara 12 bulan hingga tiga tahun dan dalam banyak hal dapat disamakan dengan masa postulan dalam kehidupan religius.
  2. Tahap Pemuridan: seminaris memulai studi akademisnya dan terus mengikuti Kristus sebagai seorang murid. Jika ia masuk setelah lulus SMA, ia biasanya menempuh program *Bachelor of Arts* yang memakan waktu empat tahun. Jika ia sudah pernah menempuh pendidikan tinggi sebelumnya, ia menempuh gelar yang sama namun mungkin dalam waktu yang lebih singkat. Jika ia sudah memiliki gelar perguruan tinggi, ia menempuh program *Bachelor of Philosophy* selama dua tahun.
  3. Tahap Konfigurasi: seminaris dibentuk agar semakin menyerupai Kristus. Pada tahap ini, ia telah memiliki kebiasaan berdoa yang teratur. Fokus pembinaan menjadi semakin bersifat pastoral seiring ia mendekati tahbisan. Di awal tahap ini, ia menerima status kandidat (serupa dengan *Tonsur*), yang berarti ia diharapkan pada akhirnya akan ditahbiskan. Seminaris tersebut dapat mulai mengenakan pakaian klerikal (tergantung pada wilayahnya). Tahap ini biasanya berlangsung selama tiga hingga empat tahun dan diakhiri dengan perolehan gelar magister.
  4. Tahap Sintesis Vokasi: seminaris menerima penahbisan. Ia menjadi Ddiaken dan beralih menjalani kehidupan paroki selama setidaknya enam bulan. Setelah itu, ia ditahbiskan sebagai imam, biasanya menjabat sebagai vikaris paroki sebelum kemudian menjadi pastor paroki.

Protestantisme

International Council for Evangelical Theological Education didirikan pada tahun 1980 oleh Komisi Teologi World Evangelical Alliance.[11] Pada tahun 2015, organisasi ini memiliki 1.000 sekolah anggota di 113 negara.[12] Di Amerika Serikat dan Kanada, *Association of Theological Schools* merupakan badan akreditasi non-pemerintah sekaligus wadah bagi berbagai seminari di Amerika Utara. Gelar M.Div. (Master of Divinity atau Magister Divinitas) dianggap sebagai gelar standar yang ditawarkan oleh seminari Protestan untuk pelatihan pastoral yang komprehensif. Banyak seminari menawarkan program lain, seperti *Master of Arts*, *Master of Theological Studies* (M.T.S.), Th.M. (gelar master yang ditempuh setelah gelar master pertama, sering kali sebagai langkah menuju atau pengganti gelar doktor), *Doctor of Ministry* (D.Min.) yang berfokus pada praktik profesional pelayanan, program Ph.D., dan sebagainya. Selain bidang-bidang pelayanan, teologi, dan studi biblika yang bersifat tradisional, banyak seminari menyelenggarakan program di bidang konseling (baik yang bersifat *nouthetic* maupun yang mengintegrasikan psikologi), pendidikan Kristen, serta misiologi atau studi lintas budaya. Beberapa seminari juga menjalankan program perguruan tinggi Alkitab (*Bible college*) tingkat sarjana atau beroperasi sebagai bagian dari universitas yang lebih besar. Banyak institusi non-seminari juga menawarkan program pascasarjana serupa.

Di Amerika Serikat, pendidikan seminari Protestan pada umumnya didominasi oleh institusi-institusi dari wilayah Midwest—seperti Trinity Evangelical Divinity School yang kini telah tutup—namun akibat perubahan dalam dunia pendidikan tinggi pada tahun 2010-an dan 2020-an, kini institusi-institusi dari wilayah Selatanlah yang mendominasi lanskap tersebut.[13][14] Southern Baptist Convention mengelola beberapa seminari terbesar di dunia, termasuk Midwestern Baptist, Southern, Southeastern, dan lainnya. Seminari-seminari besar lainnya yang tidak berafiliasi dengan denominasi tertentu meliputi Dallas Theological Seminary, Asbury Theological Seminary, Rawlings School of Divinity (Liberty University), Talbot School of Theology (Biola University), dan Gordon-Conwell Theological Seminary.[14] Beberapa seminari terkemuka dari kalangan *mainline* dan non-evangelikal antara lain Duke Divinity School (United Methodist), Princeton Theological Seminary, Harvard Divinity School, Yale Divinity School, dan George Truett Seminary (Baylor University).

Penggunaan lain dari istilah tersebut

Di beberapa negara, istilah seminari juga digunakan untuk sekolah tinggi sekuler yang melatih para guru; pada abad ke-19, banyak sekolah semacam itu bagi perempuan didirikan di Amerika Serikat.[15]

Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (Gereja LDS) menyelenggarakan kelas seminari bagi siswa sekolah menengah berusia 14 hingga 18 tahun sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Gereja. Berbeda dengan penggunaannya dalam konteks keagamaan lain, kata "seminari" dalam konteks Gereja LDS tidak merujuk pada program pendidikan tinggi yang dirancang untuk melatih siswa agar dapat meniti karier di lingkungan gereja.[16] Namun, hal itu membantu mempersiapkan mereka untuk pelayanan rohani di dalam gereja (seperti misi LDS dan penugasan lainnya). Siswa seminari LDS tidak mendapatkan kredit sekolah menengah atas untuk studi seminari mereka.

Seminari di Indonesia

Seminari Menengah

Di Gereja Katolik Roma ada jenjang Seminari Menengah (setingkat SMP dan SMA) dan Seminari Tinggi (setingkat perguruan tinggi). Pendidikan di Seminari Katolik memiliki tujuan pendidikan yang didasari lima aspek yaitu: Scientia (Pengetahuan), Sanctitas (kekudusan), Sanitas (kesehatan), Communitas (komunitas), dan Vocatio (panggilan). Dengan lima aspek ini seminaris diharapkan mampu menjadi pemimpin sekaligus pelayan bagi masyarakat dan Gereja.[17]

Untuk mengembangkan aspek scientia (pengetahuan), Seminari Menengah (setingkat SMP dan SMA) menerapkan kurikulum sekolah umum (kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau Depdikbud). Para seminaris belajar mata pelajaran umum seperti: Matematika, bahasa inggris, sejarah, Biologi dan pelajaran-pelajaran umum lainnya. Selain kurikulum umum, di Seminari Menengah ada tambahan kurikulum khusus Seminari, antara lain mata pelajaran khusus seperti bahasa Latin, Kitab Suci, liturgi, dan sejarah Gereja. Para seminaris juga mempelajari kesenian seperti tari tradisional, drama, melukis, dan menyanyi. Untuk mengembangkan aspek sanitas (kesehatan), Seminari menyediakan berbagai fasilaitas olahraga sehingga seminaris mampu mengembangkan bakat olahraga.

Pendidikan Seminari Menengah biasa ditempuh dalam waktu 4 tahun, dimulai ketika seorang pria memasuki usia setara kelas 3 SMP dan lulus pada 3 SMA. Lulus dari Seminari, barulah siswa tersebut dapat melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi untuk menjadi seorang Frater, seorang calon Pastor.[18]

Daftar Seminari Menengah di Indonesia

Di Gereja Katolik Indonesia terdapat 37 Seminari Menengah yang terbagi dalam 5 regio, meliputi: Regio Jawa, Regio Sumatera, Regio Kalimantan, Regio Nusa Tenggara, dan Regio MAMPU (Maluku, Ambon, Makasar, Papua).[19]

Regio Jawa

  1. Seminari St Aloysius Gonzaga Wacana Bakti Jl. Pejaten Barat 10A, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
  2. Seminari Stella Maris Bogor Jl. Telaga Kahuripan, Kec. Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
  3. Seminari St Antonius Padua Cadas Hikmat Jl. Suryalaya Sari 5, Bandung, Jawa Barat
  4. Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan Jl. Mayjend Bambang Soegeng No.15, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah
  5. Seminari St Vincentius a Paulo Blitar Jl. Merdeka Timur 4-6 Garum, Blitar, Jawa Timur
  6. Seminarium Marianum Probolinggo Jl. Letjen Panjaitan 58 Probolinggo, Jawa Timur

Regio Sumatera

  1. Seminari Christus Sacerdos Pematangsiantar Jl. Lapangan Bola Atas 24 Pematangsiantar, Sumatera Utara
  2. Seminari Santo Petrus Aek-Tolang, Sibolga Jl. AIS Nasution No. 27, Sibolga, Sumatera Utara
  3. Seminari Santo Petrus Palembang Jl. Bangau 60 Palembang, Sumatera Selatan
  4. Seminari Mario John Boen Pangkalpinang Jl Solichin GP Dalam Pangkalpinang, Kepulauan Bangka belitung
  5. Seminari Maria Nirmala Padang, Jl. Jendral Sudirman No.50, Kota Padang, Sumatera Barat

Regio Kalimantan

  1. Seminari St Petrus Nyarumkop Nyarumkop, Singkawang Timur, Kalimantan Barat
  2. Seminari St Gabriel Sekadau Jl. Merdeka Selatan No. 1, Sekadau, Kalimantan Barat
  3. Seminari St Laurentius Ketapang Komplek Pastoran Bina Utama Jl. Gatot Subroto No. 36, Payak Kumang, Ketapang, Kalimantan Barat
  4. Seminari St Yohanes Maria Vianey Sintang Jl. A. Yani No. 8 Sintang, Kalimantan Barat
  5. Seminari St Yohanes Don Bosco Samarinda Jl. Pasundan 78, Samarinda, Kalimantan Timur
  6. Seminari Raja Damai Palangkaraya Jl. Tjilik Riwut Km. 1, No. 5 Palangkaraya, Kalimatan Tengah
  7. Seminar St Yosef Tanjung Selor Jl. Danau Jempang No. 52 Pamusian Tarakan Tengah, Kalimantan Utara

Regio Nusa Tenggara

  1. Seminari St Rafael Kupang Jl. Thamrin No. 15 Oepoi, Kupang, NTT
  2. Seminari St Maria Immaculata Lalian Jl. Nela Raya Lalian, Atambua, NTT
  3. Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko Todabelu, Mataloko, Ngada, Flores, NTT
  4. Seminari St Maria Budan Segala Bangsa Maumere Jl. Kimang Buleng, Kota Uneng-Alok Maumere, Flores, NTT
  5. Seminari Pius XII Kisol Kisol, Tanah Rata, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT
  6. Seminari St Fransiskus Asisi Sinar Buana Sumba Jl. Kodi-Kelembu Nga’a Bangga, Weelonda, Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT
  7. Seminari St Yohanes Paulus II Labuan Bajo Jl. Van Bekum, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, NTT
  8. Seminari San Dominggo Hokeng Hokeng, Larantuka, Flores, NTT
  9. Seminari Roh Kudus Bali Jl. Raya Tuka No.54, Tuka Dalung, Kuta Utara Badung, Bali

Regio MAMPU (Maluku, Ambon, Makasar, Papua)

  1. Seminari St Petrus Claver Makassar Jl. Gagak 19, Makassar, Sulawesi Selatan
  2. Seminari Agustinianum Manado Jl. Siswa-Paslaten II, Tomohon, Manado, Sulawesi Utara
  3. Seminari Xaverianum Ambon Jl. Patimura 26, Ambon, Maluku Tenggara
  4. Seminari St Fransiskus Xaverius Manado Jl. Opo Worang 263 Kakaskasen, Tomohon, Manado, Sulawesi Utara
  5. Seminari St Yohanes Maria Vianey Saumlaki Jl. Misi Olilit Barat, Saumlaki, Maluku Tenggara
  6. Seminari St Yudas Tadeus Langgur Jl. Yakobus No.3, Langgur, Tual, Maluku Tenggara
  7. Seminari St Yoseph Tobelo Jl. Gonsalo Gura Belakang Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara
  8. Seminari St Petrus Dobo Jl. Ali Moetopo, Dobo, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara
  9. Seminari St Fransiskus Asisi Jayapura Komplek Taruna Bakti Jl. Empege Waena, Distrik Abepura, Jayapura, Papua
  10. Seminari St Petrus Van Diepen Sorong Jl. Melati Mariat Pantai, Aimas Sorong, Papua Barat
  11. Seminari Pastor Bonus Merauke Jl. Angkasa Komplek SMA Yos Sudarso Kelapa Lima, Merauke, Papua

Seminari Tinggi

Mengenai Pendidikan di Seminari Tinggi (setingkat Perguruan Tinggi) sudah lebih menjurus pada pendidikan menjadi seorang pastor. Seminaris yang berada di Seminari Tinggi--lazim disebut frater--adalah orang-orang yang sudah memutuskan untuk menjadi seorang pastor tetapi tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan panggilan ada yang mengundurkan diri dari seminari tinggi. Dalam proses pendidikan di Seminari Tinggi para seminaris akan lebih mendalami tentang pentingnya hidup doa (spiritualitas) Kitab Suci, Liturgi, dan Sejarah Gereja. Selain itu para seminaris juga mempelajari Filsafat dan Teologi.

Daftar Seminari Tinggi di Indonesia

Regio Jawa

  1. Seminari Tinggi St. Yohanes Paulus II, Keuskupan Agung Jakarta
  2. Seminari Tinggi Fermentum, St. Yohanes Pembaptis, Keuskupan Bandung
  3. Seminari Tinggi St. Petrus dan Paulus, Keuskupan Bogor
  4. Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Keuskupan Agung Semarang
  5. Seminari Tinggi Providentia Dei (STPD), Keuskupan Surabaya
  6. Seminari Tinggi Interdiosesan Giovanni XXIII, Keuskupan Malang

Regio Sumatera

  1. Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus, Pematangsiantar, Regio Sumatera

Regio Kalimantan

  1. Seminari Tinggi Interdiosesan, Antonio Ventimiglia, Regio Kalimantan

Regio Bali-Nusa Tenggara

  1. Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus, Ritapiret, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Ruteng, dan Keuskupan Denpasar

Regio MAMPU (Maluku, Ambon, Makasar, Papua)

  1. Seminari Tinggi Hati Kudus, Pineleng, Keuskupan Manado
  2. Seminari Tinggi Anging Mammiri, Keuskupan Agung Makassar
  3. Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius, Keuskupan Amboina
  4. Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru, Regio Papua
  5. Seminari Tinggi Interdiosesan St. Mikhael, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, Keuskupan Weetebula

Akronim Identifikasi Kelompok Religius

Akronim identifikasi kelompok religius (lazim disamakan dengan Gelar akademik) untuk pastor Katolik Roma berdasarkan pendidikan yang telah di tempuhnya selama masa pendidikan di Seminari Tinggi. Untuk Indonesia sendiri biasanya para pastor mempunyai gelar sebagai sarjana (filsafat dan teologi), adapun juga gelar-gelar lain bisa diperoleh seorang pastor jika menempuh pendidikan di jurusan lain( di luar filsafat dan teologi) misalnya: sastra inggris sosiologi, liturgi,kitab suci,dll. Khusus kitab suci dan liturgi para pastor menempuh pendidikannya di Eropa. Selain itu juga para pastor juga mempunyai gelar berdasarkan di mana dia berkarya dan (kongregasi /ordo) yang telah di pilih. Para pastor yang bekerja di lingkup keuskupan diberikan gelar Projo, sedangkan para pastor yang bermisi ke luar negeri dan di dalam negeri (tidak tetap pada satu tempat) diberikan gelar berdasarkan nama kongregasi atau Ordo, misalnya SVD, SDB, SJ, OSC, MSC, dan SS.CC.

Program Pendidikan

Mengingat tujuan pendidikan sebuah seminari adalah mempersiapkan seseorang untuk menjalani pelayanan keagamaan, maka program pendidikannya biasanya dipusatkan pada empat bidang, yaitu: pembinaan kepribadian, pembinaan spiritual, pembinaan akademik, dan pembinaan pastoral.

Pembinaan kepribadian dimaksudkan untuk menciptakan pribadi pelayan bidang keagamaan yang matang dari segi emosional, jasmani, dan rohani.

Pembinaan spiritual dilakukan dengan membiasakan peserta didik mengembangkan kehidupan kerohaniannya dengan berbagai latihan spiritual (doa, retreat, meditasi, dll.)

Pembinaan akademik dicapai dengan pendekatan ilmiah terhadap berbagai segi ilmu teologi. Peserta didik belajar tentang perkembangan ilmu teologi dari abad-abad pertama hingga zaman yang mutakhir. Mereka juga belajar berbagai studi teologi yang berkembang di berbagai tempat di dunia, termasuk di dalam konteks studinya sendiri. Pembinaan akademik inilah yang menjadi fokus utama pendidikan di seminari yang sudah pasti peserta didik atau seminaris dibekali dengan pendidikan filsafat sebagai pelayan teologi. Pembinaan pastoral dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik dengan kecakapan penggembalaan yang dibutuhkan oleh seorang rohaniwan. Berbagai seminari membekali mahasiswanya dengan kecakapan dalam memahami manusia sebagai pribadi (melalui ilmu psikologi) dan manusia di dalam lingkungannya (melalui ilmu sosiologi-antropologi).

Referensi

  1. ^ "Seminary". Encyclopædia Britannica Concise. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-12-26. Diakses tanggal 2014-12-01.
  2. ^ "Arti kata seminari - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.web.id. Diakses tanggal 2021-02-13.
  3. ^ nrim (2019-05-31). "Theological Seminary, Divinity School, Bible College or Bible Institute? What's the Difference?". Gordon Conwell (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-07-13.
  4. ^ Seminary, Calvin (2022-09-22). "Divinity School vs. Seminary vs. Bible College". Calvin Theological Seminary (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-07-13.
  5. ^  Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Seminary" . Encyclopædia Britannica. Vol. 24 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm. 616.
  6. ^ XXIII Session, Council of Trent, ch. XVIII. Retrieved from J. Waterworth, ed. (1848). The Canons and Decrees of the Sacred and Oecumenical Council of Trent. London: Dolman. hlm. 170–92. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 10, 2009. Diakses tanggal June 16, 2009.
  7. ^ "Arti kata seminaris - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.web.id. Diakses tanggal 2021-02-13.
  8. ^ Glazier, Michael; Hellwig, Monika, ed. (2004). "Ecumenical Councils to Trent". The Modern Catholic Encyclopedia. Collegeville, Michigan: Liturgical Press. hlm. 263. ISBN 978-0-8146-5962-5.
  9. ^ Rose, Michael S. (2002). Goodbye, Good Men. Regnery Publishing. hlm. 217–25. ISBN 0-89526-144-8.
  10. ^ "History and Mission: America's First Seminary". St. Mary's Seminary and University. Diarsipkan dari asli tanggal 7 July 2022. Diakses tanggal 22 August 2022.
  11. ^ Bernhard Ott, Understanding and Developing Theological Education, Langham Global Library, UK, 2016, p. 23
  12. ^ Brian Stiller, Evangelicals Around the World: A Global Handbook for the 21st Century, Thomas Nelson, US, 2015, p. 170
  13. ^ "A Word about Stats for the Growth and Size of Seminaries". LigonDuncan.com (dalam bahasa American English). 2026-05-15. Diakses tanggal 2026-07-13.
  14. ^ a b Stetzer, Ed (2026-03-10). "3 Pivotal Trends in Theological Education: The 2026 ATS Report". Word by Word (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-07-13.
  15. ^ "The Rise of Women's Colleges, Coeducation". The Women's College Coalition. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 3, 2011. Diakses tanggal June 24, 2011.
  16. ^ Mauss, Armand L. (2003). All Abraham's Children. University of Illinois Press. hlm. 84–85. ISBN 978-0-252-02803-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-10-22. Diakses tanggal 2008-09-12.
  17. ^ "Lima S". SEMINARI MENENGAH SANTO YOHANES BERKHMANS TODABELU MATALOKO. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-03-06. Diakses tanggal 2021-02-13. {{cite web}}:
  18. ^ "Perjalanan Panjang Pendidikan Menjadi Pastor". Asumsi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-02-13.
  19. ^ "Seminari Menengah Se-Indonesia | HIDUPKATOLIK.com" (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-29. Diakses tanggal 2021-02-13. {{cite web}}:

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.